Ovianty

Potensi Agribisnis Dan Peternakan Pada Rakornas Agribisnis KADIN 2019

“Bu, mangga murah-murah banget. Cuma sepuluh ribu sekilo, ini ayah beli dua kilo. Kalau pada suka, besok beli lagi.”

Wow, saya tidak percaya, karena mangga sekilonya itu rata-rata dua puluh lima ribu rupiah. Kok bisa semurah itu? Apalagi ini mangga harum manis, yang terkenal laris dan selalu dicari pembeli. Kasihan petani mangga harganya menjadi anjlok begitu, semoga mereka tidak merugi.

Pernah juga suami cerita di kampungnya Pandeglang, pohon-pohon jengkol ditebang lalu ditanam pohon durian. Alasannya karena harga durian lebih mahal dibandingkan harga jengkol. Padahal sayang juga karena pohon jengkolnya sudah berbuah dengan teratur. Sedangkan pohon duriannya baru tumbuh membesar.

Kadang terbersit pertanyaan, “Kenapa sih pemerintah kesannya kurang peduli dengan petani? Padahal mangga, jengkol, dan hasil pertanian lainnya kan harus diperhatikan. Biar petani lebih sejahtera, jangan pengusaha pertanian aja sama tengkulak?”

Pembukaan Rakornas Agribisnis, Pangan & Kehutanan, Pengolahan Makanan & Industri Peternakan 2019

Alhamdulillah saya mendapatkan undangan mendengarkan Rapat Koordinasi Nasional 2019, Bidang Agribisnis, Pangan Kehutanan Bidang Pengolahan Makanan Industri Peternakan pada hari Selasa, tanggal 5 November 2019 di Ballroom Hotel Indonesia Kemspinki. Di sini saya mendengarkan secara langsung tentang permasalahan yang terjadi dan pembahasannya antara Pemerintah dan pengusaha.

Investasi Pada Agribisnis Dan Usulan Pengusaha Menanggulangi Kebakaran

Memang bertemunya pengusaha dengan pemerintah, akan menemukan banyak solusi bersama. Mengurangi kesalahpahaman, dan melangkah bersama pemerintah untuk pertumbuhan ekonomi yang lebih baik.

Rakornas Agribisnis KADIN 2019

Apalagi selama ini rakyat banyak mengeluhkan ekonomi yang semakin susah. Namun malah menurut Franky O. Widjaja, Waketum KADIN Bidang Agribisnis, Pangan dan Kehutanan, pertumbuhan ekonomi tahun ini diproyeksi 5 persen. Artinya ekonomi terus bertumbuh, tidak stagnan.

Dan tambah beliau, bidang agribisnis bila dioptimalkan akan memberikan 1-1,5 persen pada GDP, bila investasi lancar. Jadi mau usaha agribisnis untuk tumbuh berkembang memang dibutuhkan investor yang mau berinvestasi.

Selain itu menurut bapak Juan. P. Adoe, , Waketum KADIN Bidang Pengolahan Makanan dan Industri Peternakan, masalah kebakaran hutan harus ada kepastian hukum dalam berbisnis di Indonesia.

Dengan mengusulkan supaya pengusaha memberdayakan masyarakat seperti desa makmur peduli api. Sehingga bila desa diberdayakan ekonominya, baru bisa sadar akan bahaya api. Sehingga pengusaha menjadi partner pemerintah dalam membangun agribisnis tanpa adanya kebakaran hutan.

Sambutan Menristek Bambang Brodjonegoro

Siapa sih yang mau dipanggil petani? Di Indonesia orang suka malu dipanggil petani walaupun usahanya bertani. Ataupun pengusaha di bidang peternakan, malu juga dipanggil peternak. (Menristek, Bambang Brodjonegoro)

Menteri Riset dan Teknologi
Menteri Riset dan Teknologi dalam Rakornas Agribisnis KADIN 2019

Saat ini memang masih ada dikotomi sebutan petani. Padahal di Australia, pengusaha bidang pertanian yang mempunyai lahan pertanian berhektar-hektar di sana bangga mengakui dirinya petani.

Karena itu memang penting merubah mindset. Jadi walaupun lahannya masih sedikit dan usahanya berskala kecil, tetap dapat menikmati fasilitas pertanian.

Sedangkan untuk konsep kemitraan penerapannya baru berjalan di Kelapa Sawit. Dulu saya pernah bekerja di perusahaan sawit, memang dengan kemitraan seperti ini, baik pengusaha dan juga petani dapat bekerjasama. Karena itu sebaiknya konsep kemitraan juga berlangsung di bidang pertanian lainnya.

Selain itu sektor manufaktur harus dikembalikan dengan solusinya transformasi ekonomi. Dan juga jangan sampai industri makanan dan minuman yang berprospek malah bahan bakunya impor. Seperti kedai kopi yang sekarang ada dimana-mana, jangan sampai bahannya malah diimpor dari luar negeri.

Dan yang paling penting sih, Menristek sedang mengarahkan peneliti untuk membuat penelitian yang hasilnya nanti bisa diproduksi massal, dan terjangkau harganya. Jangan sampai penelitian hanya mentok untuk publikasi tapi kurang bermanfaat bagi masyarakat.

Menristek sangat mengapresiasi nih, bila perusahaan mau melakukan Research and Development. Dan bakalan ada insentif bagi pengusaha, sehingga diharapkan banyak perusahaan akan melakukan R&D. Jadi pengusaha jangan hanya berpikir untung terus tapi juga memperhatikan R&D.

Dan diharapkan juga fanatisme penduduk diharapkan naik untuk membeli barang produk dalam negeri, seperti Korea yang enggan membeli mobil buatan Jepang.

Meningkatkan Produktivitas melalui Penyediaan Lahan, Bibit dan Teknologi dalam Menghadapi Perubahan Iklim

Saya merasakan tahun ini musim tidak menentu. Pagi panas sekali, nanti siang hujan sebentar, lalu panas kembali. Apalagi sebelum Oktober 2019 kemarin, panasnya cuaca sampai menjadi salah satu penyebab kebakaran hutan di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Dan masalah perubahan iklim ini pastinya menjadi salah satu tantangan untuk petani dan peternak, dalam menjalankan bisnisnya.

Sebenarnya pemerintah menurut Menristek, selalu siap berkomunikasi dengan sekretariat Kadin Indonesia, terkait penelitian dalam upaya meningkatkan sektor pertanian. Namun dari pengusaha mempertanyakan subsidi pemerintah dalam penelitian.

Menurut Fransiscus Welirang, perubahan iklim membuat produktivitas menurun. Karena kalau tiba-tiba hujan lebat, dan banjir pasti akan mempengaruhi hasil panen. Jadi R&D itu sangat penting.

Selain itu membahas mengenai buah-buahan Indonesia yang sangat banyak, seperti mangga yang tadi saya sebutkan di awal. Memang tidak semua buah bisa diekspor, karena harus bersaing dengan buah-buahan di negara importir.

Menristek mencontohkan salak merupakan salah satu buah yang bisa diekspor karena unik. Sedangkan untuk pisang, kita sudah kalah kualitas dengan negara lain.

Balik lagi ke masalah penelitian, yang dipertanyakan oleh peneliti mengenai konsep royalti. Menurut Menristek, prosedur untuk royalti hasil penelitian lebih mudah sekarang, tapi tantangannya bagaimana agar hasil penelitian itu bisa diproduksi dengan massal.

Dan untuk membantu petani dengan peralatan pertanian juga menjadi tantangan pemerintah, seperti traktor yang dibagikan tapi malah tidak sesuai dengan kontur tanahnya.

Lalu bagaimana dengan iklim yang mempengaruhi biaya pertanian? Nah di sini peran BMKG dalam membuat sistem peringatan dini, untuk antispasi dan mitigasi resiko. Sehingga para petani lebih siap menghadapi perubahan iklim, bila RRI mau menyiarkannya setiap bulan.

Bahkan di New Zealand menurut salah satu peserta, sistem peringatan ini dikabarkan setiap hari. Walaupun tidak disangkal, kadang petani sendiri yang nakal menanam pada saat musim kemarau sehingga merugikan sendiri.

Hal yang mengembirakan yaitu Indeks Ketahanan Pangan Indonesia menempati peringkat ke 65 dunia dan peringkat 5 ASEAN menurut Data Global Food Security Indeks. Walaupun pertumbuhan penduduk semakin meningkat setiap tahunnya. Dan untuk meningkatkan produktivitas pertanian diperlukan bibit tanaman yang unggul dan berkualitas tinggi.

Selain itu sektor makanan menjadi penting karena menjadi penyumbang utama penanaman modal dalam negeri (PMDN) sekitar 7,1 triliun rupiah. Memang industri makanan sangat besar potensinya, apalagi sekarang banyak sekali yang mendirikan tempat makan dan tempat ngopi.

Ekosistem Investasi Ketahanan Pangan dan Daya Saing Ekspor

Pada diskusi ini Wakil Menteri Luar Negeri, Mahendra Siregar, kita perlu menyakinkan investor masuk ke Indonesia. Sedangkan menurut Staf Ahli Menteri Perdagangan Bidang Pengamanan Pasar, Sutriono Edi baik petani dan konsumen perlu dilindungi lhooo.. Dengan didukung kesediaan komoditi, keterjangkauan akses dan keterjangkauan harga. Jangan sampai ada ketimpangan harga di berbagai wilayah dan juga kelangkaan bahan makanan. Biasanya ini sih terjadi pada saat menyambut bulan puasa hari raya Idul Fitri.

Supaya investasi lancar, memang ada baiknya dilakukan usaha dari hulu ke hilir. Sehingga pengusaha bisa memanage dengan tepat, dan untuk itu diperlukan investasi yang lumayan. Agar komoditi Indonesia bisa bernilai tambah dan meningkatkan daya saing, karena itu setelah diolah bahan baku penting ada keberlanjutan.

Dan memang menurut presiden Jokowi, penting sekali menjaga iklim investasi, seperti yang disampaikan oleh Menteri Siti Nurbaya. Karena itu pemerintah akan terus mendorong produktivitas dan bergerak ke daerah-daerah.

Acces To Finance

Hal yang kurang tersampaikan kepada masyarakat, ternyata pemerintah telah memberikan keluasaan kepada pengusaha kecil dalam bidang pajak. Lalu peluncuran program KUR yang sebagian besar memang untuk sektor perdagangan. Dan sekarang akan didorong sampai ke sektor pertanian.

Selain investasi, diharapkan juga adanya fintech yang bisa menjadi solusi bagi industri pertanian. Semoga bisa win-win solution, sehingga petani diuntungkan dengan adanya fintech. Karena itu OJK Indonesia memberikan banyak ketentuan untuk Fintech terjamin keamanannya. Bukan fintech ilegal yang malah meresahkan.

Hanya menurut Jerry Ng, Founder Fintech, pada akhirnya semua akan kembali ke Bank sebagai penyedia dana. Karena teknologi bukanlah solusi terakhir. Tapi memang sayangnya Bank masih kurang menyentuh bidang pertanian dan perternakan.

Menurut saya sebagai blogger, sebenarnya ajang diskusi pemerintah dan swasta seperti ini harus lebih banyak diadakan. Karena dengan duduk bareng seperti ini akan banyak solusi yang didapatkan. Selain itu hubungan pemerintah dan swasta juga akan semakin mesra, hehe..

Rakornas Agribisnis KADIN 2019

Saya juga merasa mendapatkan banyak informasi mengenai bidang agribisnis, peternakan dan juga kehutanan. Sehingga bisa menjadi menjadi sumber informasi untuk menyampaikan kepada masyarakat dalam bentuk artikel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *