Ovianty

Perbedaan Politik Mengancam Perceraian Keluarga

Percaya nggak berbeda pilihan calon presiden dengan suami, bisa berujung perceraian?

Ini termasuk salah satu hal menyebalkan yang terjadi dalam pernikahan saya. Sejak pemilu tahun 2019, saya dan suami mulai berbeda pilihan. Suami memilih Capres Jokowi dan saya memilih Capres Prabowo. Padahal dulu selalu kompak dalam setiap memilih di Pilkada dan Pemilu.

Cerai Karena Beda Pilihan Capres

Beberapa tahun lalu, saya sempat nggak percaya beda pilihan capres bisa bercerai. Tapi ini kejadian nyata yang terjadi pada salah seorang teman perempuan saya, berinisial C. Sambil menangis dia bercerita telah bercerai, karena berbeda pilihan pandangan politik dengan suami. Badannya terlihat sangat kurus, dengan mata panda kehitaman. Hilang sudah sosok si C, yang ceria dan banyak bicara.

Perdebatan terus menerus antara si C dengan suaminya, yang awalnya tentang beda pilihan politik, merembet kemana-mana. Dan suaminya marah besar. Si C, teman saya ingin kembali rujuk, tapi suaminya tetap tidak mau. Padahal kedua keluarga besar suami dan istri, mendukung untuk perdamaian keluarganya.

Saat itu saya merasa lucu aja. Masak cerai gara-gara politik? Dan sekarang saya mengalaminya, huhu..

“Ngapain sih bu, milih Prabowo? Kan dia nggak bisa solat. Nanti ayah ikut mempertanggungjawabkan pilihan ibu di akhirat,” ujar suami. Berusaha mempengaruhi saya, agar memilih Jokowi.

Saya mengeleng dan tetap mempertahankan prinsip. “Biarin aja, suka-suka aku dong.” Suami menjadi bete mendengarnya. Siapa suruh mempengaruhi orang? Biar istri sendiri juga, tetap aja nggak bisa dipengaruhi.

Dan akhirnya ujung-ujungnya kami berantem beneran. Diem-dieman dan malas komunikasi. Saat di rumah pun, saya selalu menggunakan bahasa isyarat setiap ditanya suami. Tanpa mau mengeluarkan sepatah kata pun. Sebodo amat. Beberapa hari kemudian biasanya suami meminta maaf lalu kami berbaikan.

Tapi pertengkaran ini terus berulang. Setiap membahas tentang politik, pastinya berujung pertengkaran. Sehingga membuat saya capek dan lelah. Berada di rumah dengan suami pun tidak menyenangkan, terasa hawa panas. Apalagi kalau suami tiba-tiba berkomentar tentang Prabowo. Setelah menonton berita televisi dan membaca status temannya di media sosial. Dia mulai menyindir pilihan Capres saya. Memangnya nggak bisa ya toleransi sama pilihan Capres?

Keluarga Pondasi Sebuah Negara

Pastinya pola pengasuhan anak menjadi tidak kondusif. Saya merasa tidak nyaman bersama suami. Dan rasanya kesal terus. Jangankan untuk bercanda dan berkomunikasi dengan baik, melihat suami aja eneg bawaannya.

Padahal selama ini keluarga saya selalu kompak dan saling mendukung. Anak-anak pun senang berkomunikasi dengan orang tua. Tapi selama pemilu ini, kerasa banget fungsi keluarga terganggu. Biasanya malam hari, saya dan suami bercanda bersama anak-anak. Tapi menjelang Pemilu kemarin, malam hari saya langsung tidur, dan membiarkan suami menemani anak. Dan saya juga menghindari berdekatan dengan suami.

Sampai akhirnya saya sadar, kalau begini terus-terusan bisa-bisa nasib saya seperti si C, bercerai karena politik. Bagaimana dengan anak-anak? Lalu bagaimana hidup saya setelah bercerai? Apa semua keluarga, yang anggotanya berbeda pilihan Capres juga mengalami hal sama seperti saya?

Padahal keluarga sebagai satu unit terkecil dalam negara, membutuhkan keluarga yang utuh dan harmonis. Negara tidak akan bisa bertahan dengan tangguh, bila keluarga-keluarga berantakan. Dengan perceraian, anak-anak tidak bisa tumbuh menjadi generasi muda yang tangguh. Mereka product broken home yang tidak dibangun dengan pondasi yang kuat.

Baca juga : Membangun Komunikasi Keluarga Di Era Industri 4.0

Banyaknya Perceraian Mengancam Keutuhan Negara

Bisa dibayangkan di Indonesia berdasarkan data Kemendagri pada bulan Mei 2019 ada 72.537.670 Kepala keluarga. Dengan asumsi sekitar 1 persen keluarga yang bercerai karena beda pilihan Capres, sejak menjelang Pemilu. Dimana 1 persen keluarga itu mempunyai anak cuma 1, Maka dipastikan akan ada sekitar 725 anak korban perceraian dan 725 janda.

Data Kepala Keluarga Mei 2019
Data Kepala Keluarga Mei 2019 (sumber: http://prodeskel.binapemdes.kemendagri.go.id/gjpenduduk_detil/)

Para anak broken home ini tidak mendapatkan kasih sayang lengkap dari kedua orang tuanya. Dan para janda juga tidak bisa mengasuh anak dengan maksimal, karena harus bekerja menghidupi dirinya dan anaknya. Sehingga anak broken home tidak siap menjadi generasi bangsa yang kuat dan tangguh ke depannya.

Belum lagi munculnya masalah sosial seperti tawuran, perampokan, pelacuran dan lain-lain yang sebagai dampak keluarga broken home. Belum lagi bila si anak yang kekurangan kasih sayang, terbawa pengajian radikalisme. Yang malah meresahkan masyarakat.

Toleransi Pada Pilihan Politik

Toleransi bukan hanya pada agama saja, pada pilihan politik pun juga seharusnya begitu. Apalagi saat ini sudah ada istilah ‘kecebong dan kampret’.

Dapat dibayangkan apa yang akan dialami oleh anak, bila orang tuanya sudah saling menghina dengan kata cebong dan kampret. Apalagi bila si anak sudah besar dan mempunyai hak pilih. Si ibu maupun si ayah dapat berusaha mempengaruhi pilihan Capres anak, agar memilih mengikuti mereka. Yang berakibat si ayah dan si ibu, saling menjelekkan satu sama lain.

Walaupun keluarga itu tidak bercerai, tapi anak-anaknya sudah menyerap pengaruh buruk dari pertengkaran orang tua. Perdamaian di antara kedua orang tua, susah terwujud, bila si ayah dan si ibu tetap kekeuh mempertahankan prinsip. Terus merasa pilihan politiknya benar, dan menghina pilihan politik anggota keluarga yang lain.

Persatuan, kesatuan dan persaudaraan seharusnya dipupuk di keluarga, lalu masyarakat yang kemudian berkembang di negara. Sehingga negara bisa terus kuat dengan rasa toleransi tinggi di warganya.

Apalagi sebenarnya memang tidak boleh memaksakan pilihan politik pada siapapun. Mau itu anak, suami atau istri. Karena memang ada pasalnya yang diatur di UU No. 7 Tahun 2017 Tentang Pemilu Pasal 531, yang isinya:

Setiap orang yang sengaja menghalangi orang lain untuk melakukan haknya untuk memilih, dipidana dengan penjara dengan pidana paling lama 2(dua) tahun dan denda sebanyak 24 juta.

Perdamaian Dalam Berbeda Politik Di Keluarga

Jadi saya akhirnya mengemukakan kepada suami untuk berhenti membahas politik. Karena memang tidak akan ada habisnya. Lebih baik memikirkan tentang visi dan misi keluarga. Bagaimana membangun keluarga dengan harmonis. Dan paling penting juga memikirkan cara mendapatkan sampingan untuk menambah penghasilan keluarga.

Apalagi anak masih kecil-kecil, dan banyak cita-cita keluarga yang belum tercapai. Seperti membeli rumah, menyekolahkan anak, dana pendidikan, dan sebagainya.

Sampai akhirnya kami benar-benar berbeda dalam memilih pada tanggal 19 April. Suami memilih Jokowi dan saya memilih Prabowo, tapi kami pulang dengan muka hepi dari TPS.

#kontenkreatifhankam

#workshopkominfo

 

 

 

 

 

 

95 views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *