Cerita Ovy

5 Alasan Lansia Enggan Menjual Rumah

Rumah yang dulu ramai dengan gelak tawa anak-anak, kini sepi. Anak-anak tumbuh dewasa, menikah dan pindah rumah, meninggalkan orang tua hidup saja berdua. Namun tiada kehendak hati mereka menjual rumah. Bagi mereka menjual rumah sama saja dengan menjual kenangan.

Rumah. Bagi orang lain termasuk anak sendiri, rumah berbeda. Semakin besar rumah orang tua, maka akan semakin mahal harganya bila dijual, dan bila tidak dijual akan semakin mahal biaya perawatannya. Sehingga sayang bila rumah besar hanya dihuni oleh sedikit orang.

Namun bagi orang tua yang sudah lansia, rumah bukan merupakan harta lagi, tapi sudah menjadi salah satu bagian dari hidupnya yang tidak dapat dipisahkan.

Pernah menonton film Up?

Film yang mengisahkan seorang kakek tua yang menolak dipindahkan dari rumahnya ke rumah pensiun, dan memilih terbang dengan rumahnya bersama balon-balon udara meuju Paradise Falls, untuk memenuhi janji kepada almarhum istrinya.

Mamaku salah satunya, begitu mencintai rumah yang dibangun sejak umur 40 tahun. Rumah yang harus selalu ada walau beliau sudah meninggal. Rumah yang akan selalu ditempati dan dikunjungi oleh para anak, cucu bahkan cicit yang akan lahir.

Beliau menasihati kami para anaknya, untuk tetap mempertahankan rumahnya sekarang sampai kapanpun. Biarlah rumah menjadi tempat kembali dan berkumpul terutama saat hari raya Lebaran dan liburan.

Mengapa lansia sangat mencintai rumah mereka? 

1. Rumah Dibangun Atau Dibeli Dengan Susah Payah

Bagi sebagian orang di Indonesia yang hidup di wilayah perkotaan, rumah biasanya dibeli dengan cara dicicil susah payah bertahun-tahun melalui KPR. Namun ada juga yang membangun rumah dengan membeli tanah kosong, lalu membangunnya sedikit demi sedikit.

Jarang yang membeli dengan uang cash langsung lunas, karena harga rumah tidaklah murah.

2. Rumah sudah menemani sebagian waktu hidupnya

Bagaikan membangun mimpi masa depan, rumah dibeli atau dibangun dengan harapan akan kebahagiaan bersama keluarga. Walau kadang yang terjadi tidak sesuai harapan, tapi rumah sudah menjadi teman hidup yang ikut menyaksikan setiap detik yang terjadi di dalamnya.

Banyak memori terekam di rumah, dari waktu ke waktu. Dari anak masih kecil, hingga dewasa dan menikah. Dari masih usia 40-an sampai akhirnya sekarang berusia 60-90 tahun. Dari saat belum mempunyai tetangga, dan lingkungan masih sepi sampai akhirnya menjadi lingkungan padat penduduk.

Semuanya tentang hidup yang sebagian besar waktunya dihabiskan bersama rumah. Tidak mungkin juga mudah dilupakan.

3. Lansia tidak mudah beradaptasi dengan Lingkungan baru

Bagi anak muda, menghadapi lingkungan baru mungkin tantangan, tapi bagi lansia lingkungan baru itu tidak mudah. Menyesuaikan diri lagi dengan tetangga baru, suasana baru, tempat tinggal baru, dan semuanya yang baru.

Bahkan perubahan bisa menimbulkan stress pada lansia. Lingkungan baru bisa membuatnya merasa stress dan terisolasi.

4. Rumah sudah beberapa kali renovasi sehingga menjadi tempat tinggal idaman

Rumah yang sekarang ditempati berpuluh tahun lamanya, biasanya sudah mengalami beberapa kali perbaikan.

Tidak jarang rumah juga sudah ada penambahan ruangan dan dibangun lebih luas dari sebelumnya.

Sehingga rumah menjadi lebih indah, lebih menyenangkan dan lebih nyaman, setelah beberapa kali perbaikan.

5. Rumah baru akan berbeda dengan rumah lama

Tentunya. Walau rumah baru lebih bagus karena baru dibangun. Namun rumah lama bagaikan teman hidup tak tergantikan.

Suasana lingkungan dan  perasaan nyaman, tak tergantikan bagi lansia. Seberapa baguspun rumah baru, tetap bagaikan tamu asing yang harus berkenalan kembali dari awal.

Rumah lama, memang tidak sebagus rumah baru. Namun bagi lansia, rumah lama sudah menempati kedudukan istimewa di hatinya.

Tidak mudah bagi lansia menjual rumahnya dan menggantikan dengan rumah baru. Sehingga keputusan menjual rumah lama, hanya karena penghuninya sudah berkurang banyak.

Lebih baik dipertimbangkan kembali oleh si anak. Rumah baru yang lebih bagus, tetap bukanlah rumah lama yang telah menemani orangtuanya selama puluhan tahun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *