Cerita Ovy

Oase Di Tengah Gersangnya Jakarta, Kawasan ‘Kumis’ Yang Hijau

“Daun jarak bisa untuk mengobati perut bayi yang kembung. Daun binahong ini juga kerap dijadikan obat herbal.”

Gerimis rintik hujan siang itu menemani kami saat singgah di lahan apotek hidup. Luas tahan yang tidak seberapa besar, ditanami berbagai tanaman obat. Pohon jarak, lidah buaya, pandan, kunyit, binahong, merupakan beberapa tanaman obat yang kerap dimanfaatkan warga sekitar. Sederhana apotek hidupnya, tapi bisa digunakan untuk pengobatan di rumah oleh warga.

Menyusuri gang sempit padat penduduk di kampung Berseri Astra(KBA) Cengkareng Timur. Kanan dan kirinya berjejer pot tanaman hias dan obat. Menghijaukan mata yang memandang, dengan oksigen terhirup yang lebih segar. Pemandangan yang cukup langka di kawasan Jakarta. Keterbatasan lahan kerap menjadi alasan untuk tidak menanam. Namun di sini warga terlihat mulai sadar dengan penghijauan di lahan terbatas.

“Ini lingkungan kumis, kumuh dan miskin. Banyak pendatang yang dulu tidak peduli dengan lingkungan,” kata Pak Abdul, kader KBA Cengkareng.

Lumbung Ketahanan Pangan Mandiri

Langkah kaki kami terus berjalan, walau gerimis tak kunjung reda. Sampai di sebuah kawasan berpagar tinggi, sekilas seperti lahan tertutup khas kota besar. Saat pagar dibuka, tidak disangka terbentang hamparan tanah luas ditumbuhi tanaman, terutama untuk makanan sehari-hari seperti singkong, terong, petai cina, kangkung, pisang, pepaya.

Lumbung pangan di kawasan Cengkareng Timur, ada sebanyak dua tempat.

Ada juga tanaman obat dan bunga yang terlihat sangat segar menawan. Atmosfer hijaunya lahan, membuat saya seakan lupa sedang berada di wilayah kota Jakarta, bukan pelosok daerah.

Ciplukan salah satu tanaman obat yang membuat saya terharu. Harga buahnya lumayan mahal bila sudah dijual di supermarket, karena khasiatnya sebagai obat. Dulu almarhum ayah saya memelihara juga ciplukan. Tidak hanya buahnya saja yang dimakan, tapi juga batang, daun dan akarnya direbus di pot tanah sebagai obat diabetes. Alhamdulillah saat meninggal, tidak ada masalah dengan penyakit diabetes.

Keberadaan lumbung pangan ini dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar. Minimal masyarakat bisa menikmati hasil dari tanaman mereka sendiri. Ke depannya direncanakan tidak hanya membudidayakan, tapi juga mengolah hasil tanaman seperti lidah buaya, agar masyarakat mendapatkan penghasilan.

“Pelatihan pengolahan lidah buaya Kalimantan untuk menjadi cocktail. Jadi bisa untuk dijual olahan lidah buayanya,” kata Pak Abdul, pengelola perkebunan.

Tanaman lidah buaya Kalimantan memang menggoda dengan ukurannya yang besar-besar. Ada bibit-bibit lidah buaya Kalimantan yang terjejer rapi di tanah. Beda sekali dengan lidah buaya rata-rata. Terbayang lezatnya minuman cocktail lidah buaya dan getah lidah buaya untuk masker wajah serta rambut. Buat perempuan, getah lidah buaya sempat happening beberapa tahun lalu, sebagai skincare anti aging.

“Dulu kami pernah sukses memanen jamur tiram tahun 2018 dan dijual ke pasar, sayang terkendala dengan susahnya mencari baglog, media tanam yang bagus dan terjangkau harganya. Sehingga terpaksa dihentikan, karena modal tidak sepadan dengan harga jualnya yang rendah.”

Terlihat sekilas kesedihan hinggap di wajah Pak Abdul sewaktu bercerita. Memang tidak mudah membudidayakan jamur tiram, karena bergantung pada baglog. Tidak seperti tanaman lain yang bisa menggunakan media tanah di pot.

Pak Abdul pun mengajak kami berkunjung ke lumbung kedua, yang tidak kalah luasnya. Di sini selain tanaman yang ada di lumbung kedua, saya melihat beberapa kolam ikan guppy menari-nari dengan buntutnya yang berwarna-warni. Indah sekali. Di marketplace, harga persatuan ikan guppy ini berkisar Rp. 3.000,- sampai Rp. 6.000,-. Dijual dengan pengiriman instant.

Peternakan ikan guppy ternyata sangat mudah menurut Pak Abdul. Tinggal melepas beberapa ekor induknya dan diberikan makan pelet setiap hari, nanti ikan guppy berkembang biak sendiri. Sayangnya belum ada alat oksigen, bila saya mau membeli ikan guppy untuk dibawa pulang ke rumah. Mengingat waktu perjalanan ke rumah saya lebih dari 1 jam, agak beresiko bila tidak ada oksigen untuk ikannya.

Sampah Yang Bernilai Ekonomi.

Sampah, menjadi salah satu masalah di perkotaan, terutama kawasan kumuh dan miskin. Bertebaran dimana-mana. Berbau busuk. Bahkan saat hujan, menyumbat saluran air. Ini pun terjadi di lingkungan Cengkareng Timur.

Namun sekarang, sampah malah bisa menghasilkan uang. Memilah-milah sampah plastik yang bisa didaur ulang, dikumpulkan dan dijual setiap sebulan sekali ke Bank Sampah. Lalu uangnya ditabung sampai setahun, bisa menghasilkan jumlah uang lumayan.

Selain dijual, botol plastik pun digunakan untuk ecobrick, yang berisi potongan plastik kemasan yang tidak dapat terurai, menjadi tiang bersimbolkan I love U. Sweet banget didirikan di pinggiran jalan. Menjadi salah satu spot instagramable warga yang bisa untuk latar berfoto.

Penghargaan ProKlim Utama

Upaya Pak Abdul dan para ibu-ibu memelihara Lumbung Ketahanan Pangan, Bank Sampah dan Ecobrick membuahkan hasil.

Penghargaan Utama Program Kampung Iklim diraih KBA Cengkareng Timur pada bulan Oktober 2021, dari Kementerian Lingkungan Hidup melalui Suku Dinas Lingkungan Hidup Kota administrasi Jakarta Barat dengan kategori Proklim utama.

Penilaian peningkatan ketahanan pangan dan pengelolaan sampah, menjadi dua point penting dalam meraih Proklim Utama.

Walau kawasan padat penduduk di Jakarta, tapi KBA Cengkareng sudah memberikan nuansa tersendiri. Aksi lokal mereka mengurangi dampak perubahan iklim, dengan lumbung pangan dan apotek hidup melakukan penghijauan penanaman tumbuhan.

Sampah pun berkurang, mengurangi potensi banjir. Pengelolaan sampah yang benar, juga mengurangi emisi gas rumah kaca ke atmosfer. Sayang dan lindungi bumi, bisa dimulai dari tindakan kecil bersama-sama.

Dimulai dari kawasan kumuh dan miskin, perubahan terjadi bila ada sosok-sosok seperti Pak Abdul dan para ibu yang menggerakkan aktivitas perbaikan lingkungan. Semua wilayah di perkotan besar pun bisa melakukan hal serupa. Asal ada kemauan, semua akan terasa lebih mudah.

22 thoughts on “Oase Di Tengah Gersangnya Jakarta, Kawasan ‘Kumis’ Yang Hijau

  1. SAlut banget sama upaya pak Abdul dan ibu2 yang membangun Lumbung Ketahanan Pangan, Bank Sampah membuahkan hasil yang bisa dinikmati bersama. Kereen, dapet penghargaan pula.
    Semoga kehadiran mereka menginspirasi daerah2 lainnya yaa.

  2. Masya Allah keren banget kampung satu ini. Punya apotek hidup, ternak ikan guppy, pengolahan sampah bahkan dibuat tulisan ILU. Aku ingin deh RWku gini juga tapi mulai dari mana ya?

  3. Masya Allah gerakan Pak Abdul dan ibu2 di KBA Cengkareng nih inspiratif banget ya. Kawasan Kumis bisa jadi asri. Andai banyak prang seperti Pak Abdul kampung2 di Jakarta, pasti Jakarta jadi keliatan rapih dan asri ya

  4. Keren masya Allah sehat selalu untuk pak Abdul, ini kumis tuh singkatan kumuh miskin tapi aku nggak lihat kayak gitu ya difoto2 ini. Kalau baca ada hijau2nya seneng deh. Belakang rumah mamah aku jg gang2 kecil tapi cukup banyak ijo2an. Daun2 herbal banyak ditanam, warga jadi tinggal petik ya^^

  5. Lumbung Ketahanan Pangan, Bank Sampah dan segala penghijauan yang dibangun oleh Pak Abdul ini patut ditiru dan kita apresiasi tentunya. Lahan yang awalnya terlihat kumuh miskin kayak disulap jadinya lebih tertata dan sehat. Betul, ibarat oase di gersangnya Jakarta, nih.

  6. kumis, kumuh dan miskin. Sekarang setelah berlanjutnya lumbung ketahanan pangan bisa menjadi kumis, karunia yang manis. Semoga oase ini bisa menjadi contoh bagi kawasan-kawasan kering lainnya.

  7. MashaAllah~
    Dengan bahu-membahu dan bekerjasama bersama masyarakat, maka membangun habit serta lingkungan yang mandiri dengan ketahanan pangan yang baik bisa dimulai dari sekarang.

    Seneng ya, liat lingkungannya banyak ijo-ijonya, jadi gak panas dan kalau hujan, gak banjir.

  8. di tengah kota ternyata bisa ada hijau-hijau yang menyegarkan ini bentuknya lumbung ketahanan pangan yang bisa dimanfaatkan masyarakat sekitar di mana hasilnya digunakan dan bisa diolah sehingga menjadi penghasilan tambahan. Bagus banget konsepnya

  9. Senang kalau ada sosok penggerak utk aksi2 menyelamatkan lingkungan seperti itu ya mbak.
    Sebenarnya masyarakat pun senang krn bisa merasakan dampaknta.
    Cuma ya emamg butuh inisiatif dan dorongan aja.
    Wah Cengkareng, ini berarti kampungnya gk jauh dr bandara ya mbak? TFS

  10. Sosok seperti Pak Abdul dengan kolaborasi bersama ibu-ibu di KBA Cengkareng timur yang antusias menjadi penggerak kegiatan perbaikan lingkungan sehingga mampu mengubah wajah daerah yang tadinya “kumis” menjadi kawasan yang hijau, bersih, asri dan bahkan bisa menjadi lumbung pangan. Semoga menjadi pilot project yang akan menginspirasi daerah kumis lainnya, sehingga semakin merata ketahahan pangannya, sekaligus menyelamatkan lingkungan

  11. Keren, semoga di Jakarta banyak pak Abdul pak Abdul yang lain yang bersedia menggerakkan warga sekitar untuk membuat lahan hijau disekitar tempat tinggal, dan membuat lingkungan menjadi hijau, sejuk dan bisa dimanfaatkan hasilnya untuk warga sekitar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *