Ovianty

Kemitraan Sebagai Salah Satu Solusi UMKM Untuk Naik Kelas

Teringat saat krisis moneter tahun 1998 menerjang Indonesia, mal-mal banyak yang tutup. Tapi warung kelontong masih pada buka.

Memang menyeramkan kalau diingat perekonomian saat krisis moneter waktu itu. Ekonomi begitu pas-pasan, dimana-mana semua orang mengeluh tidak bisa beli apa-apa, termasuk keluarga saya. Bahkan sampai ada ikan asin yang terkenal sebagai ikan krismon, karena paling dicari kebanyakan ibu rumah tangga yaitu ikan peda.

Herannya warung kelontong tetap buka setiap hari, dan orang pun masih berdatangan untuk membeli walaupun agak berkurang kuantitasnya. Setidaknya usaha kecil masih bisa survive, dan tidak langsung tutup seperti Mal besar.

Pertumbuhan UMKM Dan Koperasi Saat Ini

Baru beberapa tahun terakhir ini, UMKM tumbuh dan berkembang dengan pesat. Walaupun pada kenyataannya masih kalah dari negara lain. Tapi sudah lumayan, dibandingkan saat saya masih menjadi mahasiswa. Rata-rata mahasiswa masih takut untuk memulai usaha dan memilih zona aman menjadi pegawai.

Saat sekarang pun masih banyak lulusan perguruan tinggi yang mengejar menjadi PNS, karena jabatannya nyaman dan mempunyai tunjangan hari tua. Padahal menjadi UMKM dan Koperasi terutama sektor konsumsi bisa meningkatkan PDB negara. Tuh, berjasa buat negara kan UMKM dan koperasi, bukan malah memberatkan hehe..

Dan bukan tidak mungkin UMKM dan Koperasi akan mengalahkan para raksasa ekonomi, yang malah goyang saat diterjang krisis moneter.

Permasalahan UMKM Dan Koperasi Saat Ini

Dulu pernah sih bikin catering sama teman-teman, tapi sayang karena manajemennya kurang baik, sehingga bubar di tengah jalan. Sedih kalau diingat sebenarnya.

Walaupun saya lulusan manajemen tapi masih sangat minim dalam praktik bisnis dan berharap ada pembimbing. Tapi sayangnya kekuatan catering saya tidak bertahan lama.

Walaupun dijalankan saya merasa stagnan dan kurang berkembang sehingga akhirnya menyerah saat harga minyak dunia naik.

Memang ada partner catering saya yang bertahan sampai saat ini, tapi mereka sampai sekarang kurang berkembang. Apalagi sudah bertahun-tahun tapi terus seperti itu. Memang UMKM membutuhkan naik kelas, tidak hanya diam di tempat.

Tidak mudah untuk UMKM naik kelas, banyak hal selain modal yang harus diperbaiki. Dari urusan manajemen hingga urusan pemasaran. Dan sebenarnya dibutuhkan semacam kerjasama dengan perusahaan yang mumpuni, sehingga sama-sama menguntungkan.

Kemitraan Untuk  Memperkuat UMKM Naik Kelas

Pernah melihat salah satu iklan kecap manis di televisi? Itu merupakan iklan favorit saya. Dimana para petani kedelai hitam Malika, merawat kedelai terbaiknya yang kemudian diolah menjadi kecap.

Bentuk kemitraan pabrik kecap dengan petani kedelai hitam Malika memang patut diacungkan jempol. Petani dibantu dalam menanam keledai hitam terbaik, dan pabrik kecap tidak perlu mempunyai lahan untuk mendapatkan kedelai hitam terbaik.

Lalu bagaimana caranya agar setiap UMKM mendapatkan kesempatan untuk bermitra dengan perusahaan besar? Karena akses informasi yang terbatas untuk bertemu dengan pengusaha.

Bentuk Kemitraan Yang Bisa Diterapkan

Alhamdulillah saya menghadiri seminar ‘Menjaring Kemitraan UMKM Perkuat UMKM Naik Kelas’, di gedung Kemenkop pada hari Selasa, 26 September 2019.

Bp. Abdul Kadir

Menurut Abdul Kadir Damanik, Deputi Bidang Restrukturisasi Usaha, ada beberapa perusahaan yang pernah meminta untuk menjalin kemitraan dengan UMKM. Dan itu perlu ditindaklanjuti.

Untuk saat ini memang kemitraan yang terlihat sangat baik yaitu kemitraan dalam menanam kelapa sawit. Saat ini para pengusaha kelapa sawit telah memberdayakan para petani lokal untuk menanam sawit. Sehingga mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar.

Abdul Kadir menambahkan, untuk kemitraan bukan semata kerjasama, tapi diperlukan empat hal yaitu :

  1. Saling membutuhkan
  2. Saling mempercayai
  3. Saling memperkuat
  4. Saling menguntungkan

Bila keempat hal tersebut di atas tidak terpenuhi untuk UMKM, maka kemitraan tidak akan memperkuat UMKM untuk naik kelas.

Koperasi Telekomunikasi Seluler (KISEL)

Ada yang pernah mendengar nama KISEL? Tidak disangka KISEL yang terbentuk pada 23 Oktober 1996, sekarang beromset 6 Triiliun.

Bp. Surya

Suryo Hadiyanto, Direktur Utama Koperasi Telekomunikasi Seluler (Kisel) menjelaskan Kisel, sedang menargetkan untuk menjadi Koperasi kelas dunia.

Dengan menitikberatkan pada membangun SDM, seperti pelatihan dan sertifikasi. Sehingga dengan SDM yang unggul, bisa menjalankan bisnis dengan lebih baik. Selain itu memperbaiki SOP, agar jelas prosedurnya. Tidak lupa juga teknologi dengan digitalisasinya. Yang memang sangat penting dalam era millenials ini.

Usulan Kemitraan Melalui Marketplace Kementerian Koperasi

Dengan semakin besarnya Kisel yang membawahi 14 koperasi, Surya optimis suatu hari nanti para UMKM dan koperasi di bawah Kementerian Koperasi bisa bersatu dalam sebuah marketplace.

Para UMKM dan Koperasi, bersinergi bersama untuk mendorong UMKM untuk naik kelas. Terutama dalam segi omset dan pemasaran akan lebih terbantu.

Surya sangat antusias akan terwujudnya marketplace para UMKM. Karena pada era saat ini, pemasaran digital sangat dibutuhkan. Belum lagi distribusi barang dari produsen ke konsumen perlu diperhatikan, karena berkaitan dengan permintaan pasar. Waktu pengiriman menjadi salah satu faktor krusial dalam penjualan.

Semoga dengan adanya titik temu kemitraan UMKM dan pengusaha, UMKM semakin naik kelas. Dan pastinya memberikan lapangan kerja lebih banyak serta menyejahterakan penduduk Indonesia.

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *