Ovianty

Mengembangkan Kecerdasan Emosi Dan Kepintaran Otak Pada Anak

Sekarang ini, banyak orang lebih suka merekam video saat orang lain kesusahan dan butuh pertolongan secepatnya. Dibandingkan menolong langsung membantu orang tersebut. 

Pernah viral kejadian beberapa tahun yang lalu, seseorang laki-laki yang dituduh maling di mushola, dibakar hidup-hidup. Dan orang-orang di sekitarnya hanya menonton, bahkan tega merekam videonya, tanpa berniat membantu memadamkan api. Akhirnya laki-laki tersebut meninggal dunia, tanpa sempat dicek kebenarannya.

Saya sedih banget membaca berita tersebut. Kenapa bisa mereka yang ada di lokasi tersebut tidak mempunyai empati sama sekali. Ini yang sangat disayangkan dalam kehidupan bermasyarakat. Berkurangnya empati hanya akan membuat orang menjadi mati rasa, dan tidak mau membantu satu sama lain.

Apalagi sebagai seorang ibu dari dua orang anak, saya ingin anak saya tidak hanya pintar, tapi mau memberikan bantuan pada orang yang membutuhkan. Karena pintar tapi hanya mementingkan diri sendiri, tidak bagus juga. Kadang saya suka melihat apalagi di media sosial, para orang tua membanggakan anaknya yang mendapatkan nilai bagus di sekolah. Masuk sekolah atau universitas negeri terkenal, atau lulus dengan nilai yang sangat memuaskan.

Masih jarang orang tua yang bangga saat anaknya berempati dengan orang lain. Dianggap hanya membantu orang kesusahan itu sudah biasa. Bukan prestasi yang membanggakan.

Padahal membantu orang lain, membuktikan kalau anaknya cerdas secara emosional. Namun banyak orang tua yang kurang menyadarinya, termasuk saya. Bagaimana caranya mengajarkan kedua anak saya, Erin dan Raif, untuk mulai berempati kepada orang lain? Lalu apakah saya bisa mengembangkan kecerdasan emosi mereka bersamaan dengan kepintaran otak?

Family Date Bebeclub

Alhamdulillah saya mendapatkan kesempatan belajar tentang bagaimana mengembangkan EQ dan IQ pada anak.  Bersama rekan-rekan blogger dari Kumpulan Emak Blogger menghadiri Bebeclub Family Date di Kantorkuu, Kuningan pada hari Jumat, 9 Agustus 2019.

Dengan nuansa suasana warna Tumeric, saya dan Raif bergabung dengan para Emak Blogger. Saat datang kerasa sekali, suasana hommy dan hangat menyambut kami. Tempat duduk lesehan dengan bantal duduk dan meja panjang yang ditata dengan apik. Serasa mau piknik beneran.

Raif dan anak-anak yang lain kelihatan excited. Karena memang anak-anak biasanya penyuka warna cerah, yang membuat semangat. Mereka juga bebas berjalan-jalan kemana-mana sebelum acara dimulai. Raif senang bisa naik ke atas tempat duduk yang tinggi. Dan melihat banyak balon yang disusun dengan lucu. Cuma sayang karena Raif jarang terpisah dengan Erin. Raif agak canggung untuk berbaur dengan anak lain dan mulai agak crancky.

Saat acara mau dimulai, para kakak dari rumah Dandelion, mengajak anak-anak untuk bermain bersama. Raif masih ragu dan malu untuk bergabung. Padahal anak-anak lain, sudah duluan ikutan main pasir. Tapi keramahan para kakak dari rumah Dandelion yang membujuknya, membuat Raif akhirnya bergabung. Saya tidak menyangka, Raif malah akhirnya asyik main pasir dan mau mewarnai kelincinya. Baru kali ini Raif mau bergabung dengan anak-anak lain, tanpa kehadiran Erin di sisinya. Wah, saya surprise banget.

Mengembangkan EQ Bersamaan Dengan IQ

Pernahkah Mom bertemu dengan teman yang pintar, tapi kok pelit berbagi ilmu? Atau teman yang baik banget, tapi kok tulalit? 

Kebanyakan pasti pernah ya? Kalau udah ketemu orang dengan kedua tipe tersebut, saya juga suka gimana gitu, hehe.. Pengennya sih punya teman pintar tapi juga baik hati, jangan hanya salah satunya yang menonjol.

Marketing Manager Bebelac, Deska Hapsari Nugrahaini, menjelaskan diadakan Family Date Bebeclub ini agar anak terangsang antara hati dan daya pikir. Sehingga anak tidak hanya cepat tanggap, tapi juga memiliki kebesaran hati. Dengan begitu seorang ibu bisa memberikan stimulasi sejak dini kedua hal tersebut kepada anak.

Selain itu Binky Paramitha Iskandar, M.Psi., Psikolog Pendidikan Rumah Dandelion, menjelaskan dengan adanya EQ, anak menggunakan hatinya untuk melihat masalah. Lalu berkeinginan membantu, dengan mencari solusi melalui otaknya, yaitu IQ. Sehingga dengan semakin berkembangnya EQ juga akan mengembangkan IQ pada anak. Karena itu penting banget anak mempunyai rasa empati.

Empati adalah respon emosi dan berpikir yang kompleks, terhadap kondisi emosional seseorang. Dengan adanya empati ini maka akan timbul tiga hal yang menjadi bentuk prilaku EQ.

Iya sih, selama ini saya hanya tahu mempunyai rasa empati itu memang bagus. Tapi kalau ada hubungannya dengan EQ, saya baru tahu.

Nah lanjut Binky, anak-anak pasti kan harus belajar dulu. Karena empati tidak bisa timbul tiba-tiba. Kita seorang ibu sebagai teladan anak, bisa mengajarkan empati sejak dini. Biasanya saya sih selalu mengingatkan anak untuk membantu, terutama untuk membantu pekerjaan rumah seperti menyapu, ngepel dan nyuci piring.

Apakah saya berhasil? NGGAK. Karena kedua anak saya terutama Erin, membantu mencuci piring misalnya karena disuruh. Bukan dari hati. Alhasil saya capek ngomong terus. Erin tetap cuek, kalau nggak disuruh sama saya, wkwkw…Ternyata untuk membuat anak berempati itu ada prosesnya.

Aktivitas Mengajarkan Anak Berempati

Setelah sesi sharing materi selesai dan anak-anak meminum susu Bebelac #GrowThemGreat, ternyata ada kejutan lain lhoo.. yaitu aktivitas bersama Rumah Dandelion. Karena memang anak harus diajarkan untuk menumbuhkan rasa empati. Saya senang deh, jadi bisa dipraktekin juga di rumah untuk Erin.

Story Telling Buku O’OW HARUS APA YA?

Setelah puas bermain-main, anak-anak mendengarkan story telling dari Rumah Dandelion. Dengan judul buku O’OW HARUS APA YA? Diceritakan situasi dimana seorang Chef bingung dapurnya berantakan. Datanglah anak-anak. Mereka kaget melihat dapur. O’OW HARUS APA YA? Seorang anak membawa banyak sapu. Mereka lalu mau membantu dengan menyapu, yang lainnya mengelap meja.

Setelah itu Chef meminta anak-anak menghias donat. Tidak sengaja mangkuk coklat cairnya kesenggol salah satu anak, sehingga coklat tumpah. O’OW HARUS APA YA?  Anak-anak lalu mengepel lantai yang terkena tumpahan coklat. Donat-donat pun selesai dihias, Chef dan anak-anak senang sekali.

Menghias Donat

Setelah itu para kakak Rumah Dandelion membagikan baju chef kepada setiap anak. Di meja mereka ditaruh donat polos untuk dihias. Dan Raif sukaa banget sesi ini, karena memang dia suka donat, hehe.. Dari mengoleskan krim putih lalu ditaburi sprinkle, dia melakukannya sendiri. Saat saya tanya donatnya untuk siapa, dia bilang untuk Erin, haha..

Setelah selesai ternyata diberikan donat polos lagi dengan krim moccha dan taburan gula halus. Raif kembali semangat menghias donat keduanya. Lalu dimasukkan ke dalam kardus donat yang lucu. Benar-benar seperti jualan donat.

Tapi namanya anak-anak ya, sprinkle warna-warni yang manis rasanya, dijilatin. Sampai ke piring menghiasnya diambil satu persatu itu sprinkle. Sepertinya saya harus membuat acara menghias donat juga di rumah.

Membantu Memungut Sendok Dan Membersihkan Lantai Serta Meja

Nah kali ini, anak-anak distimulasi kesadarannya untuk membantu. Saat sedang berbaris, tiba-tiba saja kakak Rumah Dandelion yang membawa sendok terjatuh. DUG. Sendok-sendok jatuh berhamburan di lantai. Anak-anak alhamdulillah langsung memunguti sendok-sendok tersebut dan mengumpulkannya kembali.

Lalu mereka dibagi beberapa kelompok untuk membantu membersihkan. Lantai dan meja yang sengaja dibuat kotor dengan taburan tepung di lantai dan di meja. Ada yang menyapu lantai, dan ada yang mengelap meja. Mereka bekerjasama dengan giat.

Saya dan para Emak Blogger lainnya senyum menahan ketawa. Nggak kebayang tangan-tangan mungil itu bisa membantu membersihkan. Memang anak harus distimulasi agar perkembangan IQ dan EQ-nya tumbuh dengan baik sejak kecil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *