Ovianty

Pesatnya Pertumbuhan Ekonomi Digital Melalui Belanja E-Commerce

Setiap di jalan, saya selalu membuka tas untuk mengecek keberadaan smartphone. Jangan sampai ketinggalan apalagi hilang, bisa mati gaya dan susah pulang.

ekonomi digital

Belanja Hemat Dengan Aplikasi

Aku mau nonton Ralph,” pinta anak pertama saya sambil mengedipkan mata, membujuk agar saya mau mengajaknya nonton film Ralph Breaks The Internet di bioskop. Mau aja sih nonton, tapi kalau sekeluarga pergi ke mall, nggak cukup cuma nonton aja, pasti ada tambahan biaya lain seperti makan siang.

Saya lalu mengecek harga tiket pada Sabtu pagi, tanggal 24 November 2018.  Berhubung di smartphone ada beberapa aplikasi, saya mencari harga paling murah di  bioskop-bioskop yang letaknya dekat dari rumah.

Ekonomi digital
Transaksi beli tiket bioskop di Aplikasi

Aplikasi A menawarkan tiket menonton di bioskop Y Mall Graha Cijantung dengan harga 55 ribu, sedangkan aplikasi B menawarkan tiket menonton di bioskop X Tamini Square dengan harga 40 ribu. Saya memilih membeli tiket di bioskop X, karena menghemat uang 60 ribu, untuk 4 buah tiket buat sekeluarga dibandingkan membeli tiket di bioskop Y.

Sebelum menonton kami makan siang dulu dengan promo cashback melalui salah satu aplikasi ojek online. Saya mendapatkan harga miring dengan cashback 20 persen. Caranya gampang banget, hanya scan barcode melalui saldo uang di aplikasi ojek online di restoran A. Saat mau pulang, membeli minuman dengan cashback 40 persen. Membayar parkir pun lewat scan barcode aplikasi lain, dan mendapatkan diskon 30 persen.

Lumayan banget belanja pakai aplikasi, karena bisa memperhitungkan berapa banyak budget yang harus dipersiapkan. Belum lagi bisa mengecek harga termurah, sehingga bisa banyak menghemat uang. Selain itu pastinya tidak usah sedia uang tunai, hanya dengan mempunyai saldo uang di aplikasi, hidup jadi lebih mudah.

Hanya saya agak menyesal setelah makan, saat melewati foodcourt depan bioskop yang menawarkan menu makanannya. Kasihan juga omset penjualan mereka pasti menurun, karena banyak tempat makan franchise yang sudah bekerjasama dengan aplikasi.

Mudah Membayar Jasa Dengan Aplikasi

Sebagai ibu rumah tangga, saya mengidamkan mempunyai pembantu ideal. Bisa membantu membereskan pekerjaan rumah, supaya rumah rapi dan bersih. Tapi sayang dua kali mencoba mempunyai pembantu selalu gagal.

Tapi sekarang sudah tidak peduli lho, apalagi bisa memesan jasa pembantu lewat aplikasi. Beneran, keren banget.

Ekonomi Digital
Jasa Hydro Cleaning dan General Cleaning

Seminggu yang lalu saya mendapatkan rekomendasi dari suatu komunitas ibu-ibu, aplikasi memesan jasa pembersih. Alhasil saya memesan dua jasa, yaitu General Cleaning dan Hydro Cleaning.

Caranya seperti membeli barang di aplikasi yaitu cashless. Kita bayar lewat transfer bank, lalu petugasnya datang sesuai dengan hari dan waktu yang saya ajukan.

Lumayan dengan Hydro Cleaning, sofa ruang tamu disedot debunya sampai bersih. Yang lebih enak bisa menggantikan peran pembantu ya General Cleaning, dengan membersihkan 5 unit selama 2 jam. Saya bisa meminta membersihkan kaca, teras, toilet dan ruang tamu dengan peralatan dan perlengkapan sendiri.

Kalau dipikir, dibandingkan membayar pembantu yang kerjanya lelet, jasa pembersih ini benar-benar efektif dalam membersihkan. Hasilnya rumah saya bersih hanya dengan memakai smartphone.

Ekonomi Digital

Selain belanja lewat aplikasi, yang menyenangkan hidup di zaman sekarang yaitu belanja online. Ini paling mengasyikan sih karena tidak harus keluar rumah, tinggal buka beberapa aplikasi marketplace di handphone. Kalau tidak punya aplikasinya ya, buka situs websitenya. Pesan barang yang disuka, lalu transfer uangnya lewat e-banking, simpel banget.

Sesuai dengan tipe saya yang suka diskonan, menunggu waktu diskonan seperti kemarin tanggal 11 November 2018 kemarin benar-benar menguntungkan. Saya tinggal menunggu waktu diskonan dan bisa membeli apa saja yang sesuai budget. Berbagai diskonan pun saya dapatkan, dari diskon ongkos kirim, diskon marketplace dan diskon penjual.

Untuk sebuah kulkas satu pintu, yang kapasitas 240Liter aja, saya bisa beli dengan harga 2,55 juta dari harga normal 3 juta. Lumayan banget yaa.. Nggak sia-sia nyari diskonan 11.11 di marketplace.

Pernah mencari kain gorden di pasar untuk pembatas ruang tamu dan ruang tengah,  yang panjang lebih dari 3 meter, tapi ternyata tidak ada. “Gorden seperti itu barang impor bu,” jelas pedagang gorden. “Bisa sediain minggu depan nggak bang?” tanya saya. Si abang menggeleng, “Saya jualnya gorden lokal aja.”

Pedagang gorden menjelaskan lebih lanjut, kalau mau saya harus ke pasar Tanah Abang untuk membelinya. Berhubung malas banget ke Tanah Abang, saya lalu memutuskan mencari di aplikasi marketplace dan akhirnya menemukan gorden impor yang sesuai.

Nggak nyangka ternyata gorden dibeli langsung dari China. Memang tidak langsung sih, masih ada penjualnya di sini, tapi barang itu dikirim berdasarkan pesanan kita. Wow. Nggak kepikiran juga bisa belanja langsung ke China, keren ya. Pas terima barangnya juga senang, karena beda kualitasnya sama gorden buatan lokal, tapi harga hampir sama.

Dan sekarang semuanya bisa saya lakukan dengan mudah hanya dengan menggunakan smartphone.

Ekonomi Digital

Memasuki era industri 4.0 dimana segalanya serba internet dan online, belanja pun semakin mudah dan menyenangkan menurut saya.

Zaman dulu mana aja kepikiran akan belanja e-commerce, hanya lewat smartphone. Selalu sedia uang tunai kalau jalan kemana-mana. Kalau uang habis, lirik-lirik deh, nyariin ATM buat ngambil uang. Sekarang semuanya serba cashless.

Tapi perkembangan zaman dengan semakin canggihnya teknologi membuat perdagangan sangat bebas. Bukan lokasi toko, harga murah atau referensi dari mulut ke mulut lagi yang membuat orang membeli. Tapi teknologi yang memudahkan sebuah produk bisa laku, tidak hanya di dalam negeri tapi sampai keluar negeri.

Apalagi bea impor untuk masuknya suatu produk di Indonesia sampai minimal USD 75, jadi di bawah USD 75 akan dibebaskan dari bea impor. Biasanya untuk barang-barang konsumsi pribadi, harga barang saya pastinya di bawah USD 75. Ini bisa menjadi peluang untuk membeli produk luar negeri, tanpa takut terkena bea masuk.

Kadang kalau ada teman yang jalan-jalan keluar negeri dan memfoto produk di sana, suka kepengen beli. Tapi sekarang sih nyantai, bisa beli di e-commerce kok, jadi tidak harus keluar negeri buat dapetin produk luar negeri.

Ekonomi Digital

Pernah kepikiran nggak? Belanja lewat aplikasi dan belanja online termasuk bagian dari ekonomi digital lho.

Ekonomi digital sebagai salah satu perubahan memasuki era industri 4.0, menjadi perbincangan saat ini. Ada yang tahu nggak apa sih ekonomi digital itu?

Digital economy refers to an economy that is based on digital computing technologies, although we increasingly perceive this as conducting business through markets based on the internet and the World Wide Web.(sumber: wikipedia)

Yups benar, ekonomi digital memang terjadi dengan adanya internet dan website. Perkembangan IT dan globalisasi menyebabkan pertumbuhan suatu negara menjadi semakin tinggi. Dengan adanya cyber space, dimana orang bisa berkumpul dan melakukan transaksi tanpa jarak di dunia maya. Dunia menjadi semakin sempit ruang lingkupnya.

Saya aja bisa menjual dan membeli barang kemanapun dan dimanapun. Lokasi, jarak tempuh dan wilayah negara sudah tidak menjadi masalah dalam bertransaksi. Persaingan menjual suatu produk ruang lingkupnya menjadi sangat luas. Sekarang bahkan ada toko di depan rumah, tidak menjamin saya akan membeli di tokonya.

Ekonomi digital ini bermula di Amerika Serikat dengan adanya New Economy, yang muncul sejak penggunaan internet dan dunia maya. Setahu saya Amazon.com menjadi salah satu pioneer dalam hal ini.

Seiring perkembangan waktu, China diprediksi menggeser Amerika Serikat menjadi raksasa ekonomi digital sejak tahun 2018. Nggak heran sih, Alibaba punya Jack Ma kan berkembang pesat. Apalagi Lazada  juga sudah menjadi milik Alibaba, jadi bisa mudah banget buat belanja produk China di Indonesia.

Ekonomi Digital

Dikutip dari portal wartaekonomi.co.id, yang menuliskan laporan terbaru PPRO, perusahaan layanan pembayaran terkemuka di dunia tentang pembayaran dan perdagangan online tahun 2018, menyatakan Indonesia memiliki pertumbuhan tertinggi mencapai 78% per tahun. Negara lainnya untuk top five pertumbuhan pasar tertinggi adalah Meksiko 59%, Filipina 51%, Kolombia 45%, dan Uni Emirat Arab (UEA) 33%

Kesuksesan kemunculan start up di Silicon Valley, ikut menjadi trend pembangunan ekonomi yang memikat kaum muda di Indonesia. Membuka start up jadi lebih menggiurkan dibandingkan menjadi karyawan biasa.

Bermunculan start up di Indonesia sebagai salah satu pemicu pertumbuhan ekonomi melalui e-commerce yang pesat. Dari Gojek, Grab, Bukalapak, Tokopedia, Shopee, dan lain-lain, yang terus tumbuh besar dan memberikan banyak kemudahan berbelanja cashless. Sehingga semakin meningkatkan pertumbuhan ekonomi digital.

Transaksi online di Indonesia mengalami kenaikan yang signifikan. Dibarengi dengan melesunya pasar tradisional, berkurangnya pengunjung pasar, dan banyaknya pertokoan yang mulai tutup. Bahkan para pemain besar pasar swalayan, mulai ikutan membidik penjualan online, dan menutup beberapa lokasi penjualan offline.

Memang sih orang Indonesia itu terkenal doyan belanja ya. Mama saya aja sewaktu umroh dan naik haji, selalu menyempatkan diri membeli oleh-oleh di sana. Alasannya takut nggak ada yang jual di Indonesia, haha..

Di Singapura aja banyak orang Indonesia yang juga doyan bolak-balik cuma buat belanja,walau sebenarnya membeli baju murah branded bisa di Jakarta. Malah membuka peluang bisnis ‘jastip’ untuk yang suka keluar negeri. Lama-lama jastip ini bisa berkurang, bila semakin mudahnya belanja online produk luar negeri, dengan internet.

Selain itu nggak bohong juga sih, tingkat penggunaan smartphone dan juga pengguna internet yang semakin banyak, membuat belanja e-commerce semakin mudah.

Sekarang saja saya sedang menunggu tanggal 12 bulan 12, pesta belanja Harbolnas(Hari Belanja Nasional) yang akan menggelar diskon besar-besaran lagi di semua marketplace.

Sudah dipastikan omset penjualan e-commerce akan melonjak lagi menyambut Harbolnas, yang membuat pertumbuhan ekonomi digital semakin baik.

6 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *