Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Ovianty

Yuk Dukung Pembangunan Merata Di Indonesia Biar Adil

Kebayang nggak sih hidup di daerah terpencil? Boro-boro nge-charge handphone dan laptop, lampu aja nggak nyala, karena belum dapat listrik. Belum lagi mau ke kota susah banget, harus lewat jalan hutan, yang kadang suka longsor. Duh, nggak kebayang deh, nggak bisa ngapa-ngapain.

Pembangunan Merata Untuk Semua

Ternyata nih ya, ada lho daerah yang selama 37 tahun dari kemerdekaan RI, baru mendapatkan listrik. Wah, kasihan dengarnya. Apalagi udah nggak ada listrik, berada di pulau terpencil, anak mau sekolah dan menjual hasil budidaya, harus naik perahu ke pulau lain. Pusing banget.

Padahal di kota-kota besar, seperti Jakarta, pembangunan terasa banget lho. Contohnya saya yang sangat suka belanja online, kebantu banget dengan adanya jalan, pelabuhan, bandara, dan sebagainya. Pembangunan di Jakarta memang kelihatan hasilnya. Beli barang keluar negeri lewat marketplace pun bisa dilakukan dengan mudah.

Lalu bagaimana caranya ya agar daerah-daerah terpencil juga bisa ikut merasakan pembangunan? Apalagi dengan pembangunan, ekonomi dan taraf hidup masyarakat bisa meningkat pesat. Namun, ujung-ujungnya kalau mau membangun ya butuh uang. Trus uangnya darimana?

Berhubung saya diundang menyaksikan langsung live show OPSI di Metro TV, dengan host Aviani Malik, pada hari Senin, 17 Desember 2018, pukul 19.30 WIB, bertemakan Membangun Keadilan Untuk Semua. Akhirnya saya mendapatkan jawabannya.

Aviani Malik, pict.taken by Natara

Pastinya pendapatan negara kan yang besar dari pajak, selain itu non pajak dan hibah. Jadi bisa dong kita bangun daerah terpencil. Tapi ternyata dijelaskan oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, bapak Bambang Brojonegoro dengan konsep negara kepulauan, lebih besar lagi lho biaya yang harus dikeluarkan. Iya juga sih, kalau kepulauan kan harus bikin jembatan antar pulau, pelabuhan dan sebagainya.

“Defisit terjadi ketika pengeluaran lebih besar daripada penerimaan. Sangat jarang negara di dunia yang surplus.” Bambang Brojonegoro

Nah bila sudah begini, tapi memang pembangunan daerah sangat penting untuk dilakukan, maka negara perlu berhutang.  Bapak Bambang menambahkan, bahkan Arab Saudi, saat harga minyak jatuh terpaksa mengeluarkan surat hutang, untuk memenuhi kebutuhan.

Pembangunan Infrastruktur

“Jadi infrastruktur yang saat ini kita anggap boros, belum tepat akan kita alihkan ke pangan pertanian.” (Drajad Wibowo, Anggota Dewan Kehormatan PAN)

Namanya kebijakan pastinya ada dua sisi, ada yang suka dan ada yang tidak suka. Pas banget kalimat ini nih, saya sebagai ibu-ibu pengennya hasil pangan dan pertanian murah harganya ya, hehe.. Daripada harus beli mahal, kalau ada yang murah mah alhamdulillah.

Ternyata pak Bambang menjelaskan hampir sebagaian besar jalan tol yang dibangun tidak memakai dana APBN lho, tapi itu hasil kerjasama BUMN dan swasta. Dan untuk anggaran besar infrastrutur 400 M dimulai tahun 2015, itu infrastruktur dasar.

Jadi tidak hanya jalan saja yang harus dibangun Karena itu pemerintah membangun bendungan, jalan, pelabuhan, jembatan, pasokan listrik dan lain-lain di daerah terpencil. Biar semua rakyat menikmati pembangunan dan pastinya naik taraf hidupnya.

“Indonesia mempunyai gap yang cukup signifikan terhadap infrastruktur, kita tidak dapat mau dan berkembang kalau gap itu tidak diisi,” (Askolani, Dirjen Anggaran Menteri Keuangan)

Dan untuk saat ini, Indonesia memang terdesak dengan stok infrastruktur, Indonesia berada 32 persen di bawah negara normal. Posisi Indonesia turun dibandingkan Orde Baru. Infrastruktur tidak bisa hanya digunakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, tapi juga untuk kemiskinan.

Besarnya Hutang Yang Ditanggung Negara

Saya termasuk orang yang agak takut sama hutang sih, takut nggak bisa bayar soalnya, wkwkw… Tahu kan pekerjaan freelance, kadang banjir, kadang seret, nggak tentu. Jadi nggak masuk akal aja kalau harus ngutang. Kalau gaji suami sudah untuk memenuhi kebutuhan keluarga, nggak mungkin diotak-atik. Pengennya apa-apa beli tunai.

Gimana ya sama hutang negara Indonesia? Apalagi nih, prosentase hutang kita naik lho, sekitar 4 Triliun. Banyak banget. Sudah tahu belum pada tahun 2015 hutang Indonesia baru 3.165 T. Tahun 2017, menjadi sekitar 3.938 T, lalu pada tahun 2018 menjadi 4.363 T.

Jumlah yang fantastik ya. Kalau saya sih ketahuan ngutang sama suami pasti dijitak, apalagi kalau hutangnya setiap tahun bertambah, bisa habis diceramahin, hihi.. Kalau negara yang berhutang gimana ya? Bisa bayar nggak kita kira-kira?

Alhamdulillah kata Rhenald Kasali, Guru Besar UI, “Prosentase hutang Indonesia masih jauh lebih rendah dibandingkan Malaysia, Singapura, Thailand dan Jepang.”  Artinya bila negara lain saja masih berani berhutang lebih besar daripada Indonesia, berarti masih masuk logika, Indonesia berhutang segitu.

Lagipula hutangnya kan bukan hutang konsumtif, buat foya-foya, tapi ini untuk pembangunan. Dan pastinya kalau pembangunan berhasil, kita bisa bayar hutang dong.

Dan berita bagusnya menurut bapak Berly Martawardaya, Direktur Program INDEF, pada tahun 2017 pemerintah mengurangi hutang. Yang membuat defisit negara dari 2,92 berkurang menjadi 1,8. Dan ini artinya negara masih bisa membayar hutang, kalau hutang tidak bisa dibayar ini yang bikin pusing.

Membangun Kualitas Sumber Daya Manusia

Sebenarnya saya berpikir juga, memangnya kalau pembangunan sudah berjalan dengan baik. Pasti tenaga kerja kita juga dapat jaminan kerja? Karena pastinya pendidikan juga membutuhkan perhatian khusus dari pemerintah. Seperti saya yang lulusan ekonomi aja, walaupun tidak mendapatkan pekerjaan sesuai bidang sendiri, tapi setidaknya sudah bisa berkarya di bidang lain.

Ada penjelasan dari bapak Bambang, bahwa selama tiga tahun pertama pemerintah fokus membangun infrastruktur, ini saatnya Indonesia berkembang lebih jauh. Setelah membangun secara fisik, membangun manusianya. Karena itu pada APBN 2019 dianggarkan 440 T hanya untuk pendidikan.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, pic. taken by Natara

Iyalah Indonesia tidak jelek tapi di era persaingan, tapi mau tidak mau Indonesia masih kalah dibandingkan dengan negara lain. Dan sedihnya saat ini Indonesia masih di bawah Vietnam. Vietnam punya strategi yang fokus pada kualitas, fokus lebih banyak pada kualitas sumber daya manusia. Nggak nyangka ya, ternyata ada juga lho namanya pasar tenaga kerja.

Bapak Bambang menambahkan, tenaker dinilai berdasarkan skil, yang mereka dapat baik dari SMK maupun lembaga pendidikan kerja. Di pasar tenaga kerja terlihat pelamar Indonesia masih sedikit.

Dan yang paling mengenaskan bicara mengenai pengangguran di Indonesia, yang paling tinggi SMK. Padahal mereka sangat dibutuhkan di pasar tenaker. Lalu gimana biar kualitas tenaker menjadi lebih baik? Pastinya dengan membangun fasilitas SMK, kualitas guru, kualitas bengkel, dan juga memberikan kesempatan magang. Sehingga sumber daya manusia kita meningkat kualitasnya, amin..

97 views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *