Mengalahkan Raksasa Bisnis Dengan Koperasi Zaman Now

Indonesia merupakan negara yang penduduknya konsumtif. Tidak heran banyak perusahaan besar yang mengincar menjual produk di Indonesia. Ditambah lagi kemudahan perbankan memberikan kredit untuk konsumsi, sehingga pembelanjaan semakin mudah dengan sistem berhutang. Sedangkan konsumen, semakin lama terlilit hutang. Pernahkah terpikir akan lebih baik bila kita mempunyai koperasi sendiri,? Sehingga bisa belanja di toko sendiri, dan mendapatkan bagi hasil usaha yang menguntungkan.

Saat Raksasa Bisnis Menguasai Penjualan

Siapapun pernah mendengar Agung Podomoro grup, pengembang swasta yang nomor satu dalam bidang perumahan. Menyaksikan minimarket Indomaret dan Alfamart yang pertumbuhannya pesat, ada dimana-mana saat ini, terutama di kota-kota besar. Atau raksasa ritel seperti Carrefour, Hypermart, dan  Giant, yang ada di mal-mal besar. Sebagai masyarakat kita tergiur untuk membeli rumah atau barang kebutuhan sehari-hari. Tapi sayangnya kita tidak mendapatkan keuntungan apa-apa. Yang kaya hanya keluarga Agung Podomoro, yang kaya hanya pengusaha franchise minimarket, kita sebagai konsumen hanya mengeluarkan uang untuk berbelanja. Sungguh menyedihkan.

 

Kita juga tahu perusahaan start up Gojek yang bisa mengubah konsep ojek pangkalan menjadi ojek digital. Dengan menganut pembagian persentase fee ojek dengan driver sebagai mitra kerja, Gojek menjadi booming dan cepat melesat menjadi start up yang besar. Tapi driver banyak yang mengeluh karena kompensasi yang dianggap kurang. Sayangnya para driver memilih bertahan karena tidak punya pilihan lain.

Hal ini menjadi fenomena di negara berkembang seperti Indonesia, sehingga memunculkan segelintir orang yang menjadi kaya raya di Indonesia. Menurut Forbes ada 50 orang terkaya di Indonesia pada tahun 2018, yang rata-rata menguasai banyak raksasa bisnis di Indonesia. Menimbulkan pertanyaan sudah meratakah pendapatan penduduk Indonesia? Atau masih ada ketimpangan ekonomi yang besar? Sehingga pertumbuhan ekonomi kurang mencerminkan pendapatan sebagian besar penduduk Indonesia yang masih jauh dari taraf sejahtera.

(Logo Hypermart di Mal Pejaten Village)

Koperasi Sebagai Solusi

 

Andaikan kita membeli barang konsumsi, rumah, kendaraan, dan lain-lain, tapi pada perusahaan milik kita sendiri? Dan kita pastinya mendapatkan keuntungan dari laba usaha tersebut. Apalagi membesarkan usaha sendiri, memang lebih baik daripada membesarkan usaha orang. Tapi bagaimana caranya, bila saya tidak mempunyai modal yang cukup banyak untuk membuat usaha? Bisakah saya mempunyai usaha sendiri?

(Pelaku UMKM ikut pameran di Mall Jakarta)

Atau seperti para driver ojek yang menginginkan kompensasi yang lebih layak dan menyejahterakan? Dengan mereka bergabung dalam satu kesatuan, lalu menjalankan ojek digital bersama-sama. Kompensasi mereka bisa lebih besar dan juga bagi hasil usaha bisa mereka dapatkan. Dan pastinya mereka akan lebih sejahtera secara ekonomi. Namun bagaimana caranya?

Gampang. Jawabannya dengan bergabung ke dalam koperasi usaha, yang memberikan banyak keuntungan kepada anggotanya, termasuk menjadi pemilik koperasi. Koperasi sebagai soko guru bangsa, yang dahulu dicetuskan oleh Muhammad Hatta, menjadi solusi dalam menyejahterakan rakyat. Pada dasarnya Mohammad Hatta percaya koperasi sesuai dengan kepribadian rakyat Indonesia yang suka gotong royong, melakukan pekerjaan secara bersama-sama. Sama seperti koperasi yang bekerja bersama untuk kepentingan bersama juga. Tidak ada satu pihak pun yang akan menjadi kaya, sedangkan yang lain miskin, dengan menjadi anggota koperasi.

(Mohammad Hatta, wikipedia.id)

Kita hidup saat ini di dunia yang dinamis dan tidak punya kepastian, segalanya bisa berubah, begitu juga dengan pola bisnis masa kini. Prof. Rhenald Kasali, mengutarakan tentang Sharing Economy(ekonomi berbagi) seperti yang dijalankan oleh Gojek, Airy Rooms dan lain-lain. Sharing economy yang menjadi trend bisnis masa kini, merupakan peralihan dari model owning economy(pemilikan usaha perorangan).

 

(Airy Rooms Arimbi Pejaten Suites di Kemang Jakarta)

Namun yang lebih baik dari model Owning Economy dan Sharing Economy, yaitu Cooperative Economy(ekonomi koperasi), yang diutarakan oleh Francesca Bria, penasihat European Comission on Future Internet and Smart Cities Policy. Cooperative Economy atau co-op, memberikan kesempatan menjadikan pengguna dan pemberi jasa sebagai pemilik koperasi.

Rebranding Koperasi

Namun sayangnya banyak koperasi yang berjalan saat ini merupakan koperasi simpan pinjam dan menggunakan gaya lama alias konvensional dalam menjalankan koperasi, dengan gaya yang kaku dan tidak bersahabat dengan kemajuan teknologi. Masih jarang koperasi masa kini yang dijalankan dengan konsep usaha, dan memanfaatkan teknologi digital.

Padahal bila melihat ke negara-negara di luar negeri, seperti Swedia yang berperang melawan raksasa bisnis dengan koperasi. Sehingga semakin jarangnya monopoli bisnis yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar di Swedia. Pada bulan Mei 2017, tercatat 100 koperasi besar di Swedia memperkerjakan 100.000 orang dan menghasilkan omset tahunan sekitar 400 miliar SEK*.

“Kerjasama adalah bentuk bisnis yang paling tahan lama dan berkelanjutan, dan menguntungkan bagi anggota dan perusahaan.” (Tommy Ohlsron, CEO Serikat Koperasi Swedia (KF) dan Wakil Ketua Dewan Koperasi Swedia)

Padahal dengan koperasi kita bisa membuat banyak usaha seperti koperasi ojek online, koperasi minimarket, koperasi perumahan, dan berbagai macam jenis koperasi lainnya. Dan pada bulan November 2017, sudah ada 217 co-op platform di seluruh dunia, seperti :

  • JCCU (Koperasi Konsumen Jepang)
Sebuah koperasi di Jepang dengan dengan omset ratusan triliunan rupiah dan anggota kurang lebih dari 28 juta orang. Dengan keunggulannya mengadakan delivery order ke rumah-rumah anggota dan terbukanya segala informasi mengenai produk, sehingga anggota menjadi sangat loyal. JCCU sudah menjelma menjadi perusahaan raksasa, tidak hanya di Jepang tapi juga di negara lain.
  • Koperasi Syariah Jakarta Selatan
Koperasi dengan beranggotakan lebih dari 2000 anggota dan juga beromset 1 milyar dalam sebulan, membuat Koperasi Syariah Jakarta Selatan, menjadi pioneer dalam menjalankan koperasi berbasis syariah.
  • Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU)
Dengan manajemen dan fasilitas yang baik, KPSBU sangat memperhatikan kesejahteraan anggotanya. Dengan usia 46 tahun, KPSBU sudah memiliki lebih dari 8 ribu anggota koperasi serta meliputi usaha simpan pinjam, perdagangan susu, dan penyediaan makanan ternak.

Karena itu diperlukan rebranding koperasi, sebagai cara dalam menberikan citra koperasi yang lebih baik masa kini. Agar koperasi diminati oleh para anak muda untuk memulai usaha digital yaitu start up. Saya dulu pun saat kuliah, tidak tertarik bergabung dengan koperasi. Rasanya koperasi membosankan, dan tidak ada tantangan di dalamnya. Makanya tidak heran di Indonesia, koperasi kurang diminati kaum muda.

Padahal koperasi sebagai penyumbang 3,99% dari Pendapatan Daerah Bruto(PDB), mendapatkan penghargaan oleh Kementerian PPN/Bappenas pada tahun 2017. Koperasi diyakini akan semakin meningkat dan menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik, karena Kementerian Koperasi dan UKM melakukan reformasi total dengan memodernisasi koperasi melalui pemanfaatan IT.

Selain itu Menteri Koperasi dan UKM, Puspayoga mengangkat Rano Karno, sebagai Duta Koperasi dan UKM 2018. Rano Karno yang dikenal sebagai pemeran sinetron ‘Si Dul Anak Sekolahan’ ini, memang selama menjadi Gubernur Banten memperhatikan pengembangan Koperasi dan UKM di Banten. Dan dengan branding dirinya sebagai anak Betawi yang sukses, saya yakin Rano Karno dapat ikut me-rebranding koperasi, agar menjadi seksi di mata anak muda.

(Rano Karno, Duta Koperasi dan UKM 2018)

Koperasi Digital Sebagai Jawaban

Apa sih bisnis yang menarik untuk kaum muda masa kini? Jawabannya usaha start up. Fenomena kesuksesan Silicon Valley di luar negeri, menular ke sini. Tumbuhnya Gojek sebagai ojek digital, Honest Bee sebagai aplikasi pemesanan belanja, dan sebagainya, merupakan bentuk kesuksesan start up yang diadopsi kaum muda di Indonesia.
Dengan memanfaatkan teknologi digital, sebuah usaha dapat berkembang dengan pesat. Karena teknologi digital lebih fleksibel dan menjanjikan, sehingga lebih cocok untuk usaha masa kini. Banyaknya kendala yang dihadapi koperasi, bisa diatasi dengan teknologi digital. Seperti rapat anggota, penjualan, aplikasi laporan keuangan, dan lain-lain.

Namun dalam mendirikan koperasi digital maupun merubah koperasi konvensional menjadi koperasi digital, dibutuhkan seorang ahli IT, atau peran perusahaan Fintech. Selama ini proses administrasi dan keuangan di koperasi membutuhkan banyak pencatatan, sehingga diperlukan pegawai  untuk mencatat dan juga membutuhkan banyak perlengkapan dan peralatan alat tulis. Dan hal itu sangat tidak efesien di zaman digital seperti sekarang ini.

Bila sebuah koperasi modern tidak mempunyai bagian IT yang handal, maka bekerjasama dengan perusahaan Fintech merupakan solusi. Sejak alur pendaftaran anggota sampai setoran dana hingga transaksi keuangan apapun yang dilakukan koperasi, dapat dengan mudah berhubungan dengan anggota melalui teknologi digital. Ibaratnya dari hulu sampai ke hilir semua kegiatan di koperasi  bisa bertransformasi digital. Dan yang terpenting dalam koperasi usaha, harus ada penjualan online dengan dibuatkan website untuk e-commerce, agar bisa memaksimalkan penjualan.

Nah untuk aplikasi laporan keuangan sederhana, Kementerian Koperasi dan UKM, sudah meluncurkan aplikasi Lamikro, yang dapat dengan mudah digunakan oleh koperasi dan pastinya akuntable. Dengan Lamikro, para anggota koperasi bisa mengakses laporan keuangan koperasi untuk mengetahui laba atau rugi usaha koperasi.

Koperasi Syariah Jakarta Selatan

Dan saat ini, kegelisahan dan semangat anak-anak muda untuk menyaingi para raksasa bisnis, menjadi landasan munculnya koperasi-koperasi zaman now. Seperti koperasi syariah yang tumbuh atas kerinduan mayoritas umat islam berjiwa muda, akan penjualan ritel untuk menyaingi raksasa ritel minimarket.

(212 Mart di Pengadegan)

Maraknya pertumbuhan minimarket berlabel islami, terutama di Jakarta, tidak lepas dari terbentuknya koperasi syariah seperti 212 Mart yang didirikan dengan terbentuknya koperasi syariah. Karena memang menurut Imron Halimy, belum ada Undang-Undang yang mengatur Koperasi Syariah, maka dibuatlah koperasi berasaskan syariah Islam yaitu:

  • Selain Badan Pengawas, ada yang disebut dengan Dewan Pengawas Syariah.
  • Pegawai minimarket harus laki-laki, tidak diperbolehkan perempuan.
  • Anggota tidak diperbolehkan meminjam uang seperti di koperasi simpan pinjam, tapi akan dibangun Baitul Maal AtTakwir (BMT), sehingga anggota bisa membeli barang kebutuhan seperti motor dari BMT. Misalnya motor seharga 10 juta maka akan dijual 13 juta kepada anggota, dengan jangka waktu pembayaran tertentu.
  • Sisa Hasil Usaha(SHU) sebanyak 7 persen pun akan diberikan untuk dakwah islam seperti pembangunan sekolah, mushola dan lain-lain.
  • Minimarket akan ditutup setiap waktu sholat tiba.
  • Tidak menjual barang yang dimakruhkan seperti rokok. Dan barang haram seperti minuman keras.
  • Tidak menjual barang yang mengarahkan ke perbuatan maksiat seperti kondom.
  • Menjamin barang-barang yang dijual halal.

Walaupun terbilang baru berdiri pada bulan Oktober 2017, Koperasi Syariah  Jakarta Selatan ini sudah menunjukkan keberhasilan dengan :

  • Beranggotakan sekitar 2200 anggota yang tersebar tidak hanya di Jakarta Selatan tapi juga di luar Jakarta Selatan.
  • Menaungi 4(satu) lokasi 212 Mart, yaitu: Pesanggrahan, Pengadegan, Mampamg dan Tebet. Dimana di wilayah lain biasanya, 1(satu) koperasi syariah hanya menaungi satu minimarket. Mengenai hal ini pak Imron Halimy, selaku ketua menjelaskan prinsip ketahanan dianut oleh 212 Mart Jakarta Selatan, dengan banyak minimarket berafiliasi ke satu koperasi syariah, maka akan ada sistim support satu sama lain. Bila satu minimarket mengalami kelesuan penjualan maka akan didukung oleh minimarket wilayah lain.
  • Kepemilikan ganda tanpa diperlukan modal yang besar. Dengan hanya menyetorkan uang modal sebanyak 500 ribu, maka anggota bisa memiliki 4 lokasi 212 Mart di Jakarta Selatan. Dan tidak akan ada persaingan antar minimarket yang berafiliasi ke koperasi syariah 212 di wilayah Jakarta Selatan, karena anggotanya merasa memiliki semua minimarket.
  • Fleksibel. Menjadi anggota tidak hanya menyetorkan uang sebagai simpanan anggota, tapi bisa juga dengan menyewakan ruangan untuk minimarket, dimana uang sewa dianggap sebagai simpanan anggota.
  • Omset penjualan mencapai 1 milyar dalam sebulan. Hal ini bisa tercapai karena omset harian setiap malam dilaporkan ke grup whatsapp pengurus, sehingga bisa dilakukan tindakan bila ada omset minimarket yang turun.

Namun sebagai koperasi masa kini, selain mengangkat konsep syariah, Koperasi Syariah Jakarta Selatan juga  menggunakan staf IT yang handal, juga menerapkan teknologi digital masa kini seperti:

  • Distribution Center, untuk mengatur masuk dan keluarnya barang dengan aplikasi.
  • Pencatatan administrasi dan keuangan dengan aplikasi.
  • Live CCTV minimarket yang bisa diakses 24 jam.
(212 Mart, picture taken by Melyssa)
  • Kartu anggota untuk digunakan menjadi e-money
(Kartu Anggota Koperasi Syariah Jakarta Selatan, picture taken by Melyssa))
  • Pembelian online melalui grup whatsapp, dengan pengantaran kurir 212 Mart.
(Kurir 212 Mart Jakarta Selatan, picture taken by Melyssa)
  • Hasil Rapat anggota yang dibagikan melalui whatsapp grup, telegram, facebook grup maupun email.
  • Mendorong para anggota untuk menjual produk sendiri secara online, dimana barangnya dititipkan di toko dengan margin keuntungan 10 persen untuk minimarket.
(Produk UMKM di 212 Mart, picture taken by Melyssa)
(Produk UMKM di 212 Mart, picture taken by Melyssa)

Selain teknologi digital, ide bisnis brilian, yang terpenting itu adalah berjamaah. Karena dengan begitu, ada jaminan pembelian dari anggota.

“Kita membangun fanatisme berjamaah, karena anggota akan tetap membeli produk, walau di 212 Mart harga lebih mahal dibandingkan minimarket lain.” -Imron Halimy

 

Ke depannya, Imron Halimy, berencana membuka  212 Mart di berbagai wilayah, tidak hanya di Jakarta Selatan. Walaupun ada juga 212 Mart seperti 212 Mart di Tanjung Barat yang tidak berafiliasi dengan Koperasi Syariah Jakarta Selatan.

(Imron Halimy, picture taken by Melyssa)

Yang menjadi permasalahan bagi  Imron Halimy, bila mendapatkan anggota yang tidak terbiasa dengan teknologi. Whatsaap, facebook grup dan email, menjadi alat yang paling familiar bagi para anggota tersebut. Dan bersama-sama anggota dan pengurus bekerja totalitas membangun dan membesarkan Koperasi Syariah Jakarta Selatan.

 

“Orang Indonesia itu tipikalnya wait and see. Bila sudah melihat ada yang berhasil, baru mereka mengikuti.” -Imron Halimy.

 

Ke depannya Imron Halimy, mengharapkan Koperasi Syariah Jakarta Selatan ini, akan menjadi pilot untuk terbentuk koperasi-koperasi masa kini lainnya. Karena itu pak Imron mengharapkan koperasi ini berhasil, dan datangnya para anak muda untuk bergabung dengan koperasi.

Sumber :

  • Bersama Melyssa menwawancarai Imron Halimy
  • Berbagai sumber

 

 

 

Similar Posts

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *