Ovianty

Membangun Komunikasi Keluarga Di Era Industri 4.0

Pas lagi siap-siap ikutan pesta belanja, di aplikasi market place. Eh, anak gadis minta ikutan belanja. Waduh.

Berhubung saya senang belanja, tapi budget tipis. Jadi giat cari diskonan, biar bisa  belanja hemat pakai banget. Memang nggak bohong sih ladies, zaman sekarang semuanya serba canggih dan serba instan, hanya dengan jari, apapun bisa kita dapat. Termasuk belanja barang obralan, hihi..

Saya sih kalau dari sisi belanja dan mengaplikasikan hidup hemat, lebih suka hidup zaman sekarang. Dulu pas masih kecil, selain harganya mahal, barang-barang juga jarang yang jual. Mau beli sesuatu seperti boneka, harus dipendam dalam hati, karena nggak punya uang.

Beruntung dulu kecil, ada saudara yang ngasih boneka panda besar. Padahal pandanya udah ada bagian yang rusak, tapi tetap senang banget dapetinnya.

Kalau anak saya sekarang, mentang-mentang ibunya suka belanja online, maunya dibeliin barang kesukaannya juga, kalau nggak ngambek. Ujung-ujungnya anak saya jadi konsumtif, karena mikirnya beli barang mudah banget.

Memang deh, memasuki era industri 4.0 ini, semuanya serba canggih dan gampang.


Menghadapi Era Industri 4.0

Ladies, udah ada yang tahu kalau kita memasuki Era Industri 4.0? Itu tuh, zaman yang katanya segalanya, bisa dilakukan serba online, dunia maya dan jaringan.

Kayak belanja ladies, apa aja bisa dibeli secara online, dari barang kecil sampai barang besar seperti furnitur.

Pembangunan Keluarga Era Industri 4.0
Pembangunan Keluarga Era Industri 4.0

Keren ya, nggak kebayang bakal masuk ke dalam era komputer, seperti di film-film Hollywood saat dulu masih kecil. Apa-apa tinggal pencet, udah nggak butuh jarak, waktu, dan tenaga. Semuanya sangat simpel.

Namun ternyata ada efeknya lho, era Industri 4.0 ini bagi keluarga. Saat menghadiri pertemuan blogger Pembangunan Keluarga Di Era Industri 4.0 di BKKBN, pada tanggal 14 November 2018. Bapak Dr. dr. M. Yani M.Kes., PKK, Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga dari BKKBN, menjelaskan tentang pengaruh Revolusi Industri bagi keluarga.

Revolusi Industri menjadi harapan sekaligus tantangan bagi keluarga di Indonesia. (M. Yani)

Dengan mudahnya internet, anak-anak akan mudah mengakses berita apapun, sehingga mempengaruhi opininya. Gaya hidup bebas, menjalani pacaran seperti pasangan suami-istri,menjadi ancaman nyata. Belum lagi game online yang gampang diakses, membuat anak familiar dengan kekerasan.

BKKBN sekarang tidak hanya mensosialisasikan tentang keluarga berencana. Tapi juga peduli dengan bagaimana caranya membangun keluarga. Karena itu BKKBN kerap mengajukan program ke pemerintah, yang berkaitan dengan pembangunan keluarga. Agar masyarakat mengetahui ancaman yang akan dihadapi keluarga dalam era Industri 4.0

Kalau menurut Bapak Pribudiarta Nur Sitepu M.M., Sekretaris Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, dampak dari era Industri 4.0 ini akan mempengaruhi  pertumbuhan keluarga zaman sekarang. Tingkat kelahiran di luar pernikahan, dan rendahnya pemakaian KB pada keluarga miskin. Menjadi masalah bagi pemerintah dalam menghadapi era industri 4.0.

Masyarakat perlu kembali ke nilai-nilai daerah, yang dianut secara turun-temurun sejak dulu.

Dampak Era Industri 4.0 Pada Keluarga

Seperti dua sisi mata koin ya ladies, pasti ada sisi negatif dan positifnya pada #keluargaindustri4. Tapi semua kan balik ke diri dan keluarga masing-masing.

Kalau menurut Ibu Roslina Verauli, Psikolog Anak, Remaja & Keluarga, kita harus mengenali tipe keluarga sendiri. Apakah keluarga the Simpsons, the Incredibles, keluarga Cemara, atau keluarga Si Doel?

Dengan begitu, kita bisa mengenali sisi positif dan negatif yang akan dihadapi keluarga. Karena yang paling mengenal keluarga kan kita sendiri. Supaya bisa diambil langkah-langkah yang tepat dan sesuai dengan gaya keluarga di rumah.

Ehm.. cobak tebak tipe keluarga saya seperti apa? Hehe..

Sisi Positif

Saya mau bahas dari sisi positif dulu deh, dengan adanya Era Industri 4.0 di keluarga saya. Pastinya banyak hal yang menjadi mudah dikerjakan. Pekerjaan rumah tangga, memasak, mengasuh anak semuanya terbantu dengan adanya teknologi.

Termasuk belanja hemat, kebantu banget tuh dengan adanya aplikasi market place. Jadi bisa beli apa aja di rumah. Dan bisa nyetting waktu, kapan ada diskonan. Surga banget buat tukang belanja hemat kayak saya.

Coba nih ladies. Pernahkah dulu ada ayunan elektronik yang bisa bergoyang terus, hanya dengan pencet tombol? Iya kan? Dulu mah, biar bayi mau tidur, kita capek goyangin ayunan. Sekarang ayunan elektrik udah ada.

Atau coba nih kalau mau masak kue. Dulu harus nyalain kompor, terus ngelihatin bolak-balik, takut kuenya gosong. Nah sekarang kan, buat kue ngampang. Oven tinggal dicolok ke stop kontak, lalu tinggal pencet buat waktunya, kapan kue matang.

Sisi Negatif

Nah untuk sisi negatifnya, saya jadi suka belanja walaupun cuma malas-malasan di rumah, hehe.. Terus sisi negatif lainnya apa sih?

Nah itu, suami yang paling suka cari berita di internet, pegang handphone terus. Kalau bisa handphone ada di dekat dia terus. Dulu saya bete banget suami begitu, sekarang malah saya ikutan sejak ngeblog, haha..

Jadi malas kerja juga sih, seperti mesin cuci yang tinggal pencet-pencet, cucian selesai, udah kering. Nggak kayak dulu harus disikat satu persatu, diperas lalu dijemur.

Kalau anak jadi terbiasa pegang handphone. Bahkan anak saya sejak batita, sudah bisa scroll up layar handphone ke atas. Mereka malah lebih suka nonton youtube di handphone daripada televisi.

Memang sih, jadi lebih kesaring acara yang ditonton, tidak nonton iklan yang aneh-aneh. Hanya ketergantungannya itu yang parah, kalau dibiarkan.

Komunikasi Yang Efektif Dalam Keluarga

Kadang kalau saya sedang dikejar kerjaan, biarpun berada di rumah. Tetap aja sibuk di depan handphone atau laptop. Setiap anak ngomong, saya cuma mengeluarkan kata singkat, seperti ehmm, ya, oke.

Anak saya suka marah sih kalau saya begitu. “Ibu denger nggak sih, aku ngomong?” Tanyanya dengan keras. Hehe.. kalau udah begitu, saya langsung mengalihkan perhatian ke dia.

Tapi gantian, giliran anak saya nonton televisi, pas saya ngomong, dia yang nggak dengar. Sepertinya terlalu fokus nonton, dan tidak mau ketinggalan adegan sedikit pun. Haduh.

Disarankan oleh ibu Roslina, memang keluarga itu butuh komunikasi, lewat makan bersama di meja makan. Jargon ‘Keluarga indonesia, balik ke meja makan.’

Walau dengan waktu sedikit, tapi komunikasi bisa terbangun di meja makan. Dan akhirnya keluarga bisa terbuka, dan meningkatkan bonding antar keluarga.

Untungnya kami masih mempunyai waktu efektif untuk berkomunikasi. Saat makan malam bersama, dan di kamar sebelum tidur.

Biasanya anak-anak saya banyak cerita ke ayahnya. Kadang juga becanda sambil main gulat sama ayahnya. Saya juga suka nimbrung, sekalian curhat sama suami. Walau suka dikomplain si kakak, yang mau mendominasi percakapan dengan ayahnya, hehe..

Keluarga yang kuat, memang harus dibangun dengan komunikasi dan kehangatan. #revolusikeluarga4, akan terwujud, bila masyarakat mewujudkan bersama-sama.

Yuk, balik ke meja makan! Agar pondasi keluarga kuat, dalam menghadapi era Industri 4.0

25 thoughts on “Membangun Komunikasi Keluarga Di Era Industri 4.0

    1. setiap anak minta sesuatu ibunya langsung buka marketplace, terus ngasih lihat gambar barangnya ke anak sekaligus ngasih tahu harganya, wkwkw..

  1. Dampak dari industri 4.0 ini kok menohok banget ya, teknologi semakin canggih. Kalau kita ga kuat hadapi bisa berabeh dong mba. Anakku juga sama udah tau belanja online. Apalagi kalau mama nya pesan pakaian by online. Pasti dia minta di beliin juga.

  2. Setuju, teknologi pasti ada dampak buruk dan baiknya, tapi sebagai ortu cerdas pasti bisa kok melewatinya bersama keluarga dengan cara yang menyenangkan

  3. Kemajuan teknologi memang membuat komunikasi menjadi berkurang ya. Tapi dengan pemahaman kepada anak² bahwa kita tetap hrs berkomunikasi apalagi saat makan, maka anak akan mengerti dan akhirnya skrng menjadi kebiasaan untuk no gadget di meja makan

  4. Alhamdulillah ya mbak kalau keluarga komunikasinya intens dan sering bercanda-bercanda. Gak kebayang sih kalau udah kerja di luar sepanjang hari, hidup sendiri-sendiri, dan di rumah masih asik main gadget juga.

  5. Acara BKKBN ini keren banget ya mbak. Saya tertarik juga dengan pembahasannya Mbak Vera, Psikolog. Sesimpel itu solusinya, kembali ke meja makan. Intinya buat ngobrol dan bikin quality time keluarga

  6. kemajuan teknologi di industri 4 yang membawa kita pada jaringan internet dan dunia maya emang perlu diwasapadai ya. Salah-salah bisa menjauhkan yang dekat, mendekatkan yang jauh. eaaaa… hehe ini berpengaruh banget sama keluarga. jangan sampe 1 rumah kalo ngobrol via whatsapp doang. hiks horor. sepi rumahnya pasti. gak ada canda tawa.

  7. Ceria banget foto sekeluarga. Seru deh!
    Btw, aku pun merasakan dampak revolusi industri 4.0 di keluarga. Mau ngobrol tanpa gawai itu susah lho. Semoga makins siap menjadi keluarga industri 4.0

  8. Ceria banget foto sekeluarga. Seru deh!
    Btw, aku pun merasakan dampak revolusi industri 4.0 di keluarga. Mau ngobrol tanpa gawai itu susah lho. Semoga makins siap menjadi keluarga industri 4.0

  9. Benar banget mba, yg namanya sebuah perubahan selalu ada unsur negatif dan positif yang mengiingi. Hanya tinggal Kita mesti harus bijak dalam menyikapinya. Termasuk dalam sebuah keseharian di tengah keluarga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *