Ovianty

Bertemu Jodoh Di Website Biro Jodoh

Buat sebagian orang, menikah itu mudah. Tapi bagi saya untuk menikah, harus menjalani perjalanan yang sangat sulit dan memakan waktu yang cukup lama. Alhamdulillahnya pernikahan saya baik-baik saja, suami tipe laki-laki pengertian dan baik. Bagaimana dengan kamu? Apakah menikah itu merupakan sesuatu yang mudah atau sulit?

bride, cake, ceremony

Hal ini pernah terlintas di pikiran saya dulu,  bayangan pernikahan ideal kerap menggoda saya. Namun tidak jarang juga, saya merasa pernikahan hanya akan mengekang dan memenjarakan kita. Semua rasa dan dugaan itu silih berganti. Dulu saat teman mengundang saya ke pernikahannya di usia awal 20-an. Saya merasa konyol sekali menikah saat muda. Saya masih mempunyai banyak mimpi yang harus diwujudkan. Sayang kalau harus menikah cepat-cepat. 
Seiring berjalannya waktu, satu persatu teman menikah dan muncul rasa menggelitik. Ingin menikah, ingin berumah tangga. Namun tidak tahu harus menikah dengan siapa. Tapi setelah bergaul dengan teman yang sama-sama jomblo, rasa itu kembali hilang. 
Sampai kemudian, adik laki-laki mau menikah, tapi mama tidak memberikan ijin untuk melangkahi saya, dan mereka akhirnya putus. Akhirnya niat menikah kembali muncul dan saya kembali bingung menikah dengan siapa. Semua teman laki-laki yang tertarik dengan saya, rata-rata sudah menikah. Sedangkan teman laki-laki yang lain, hanya menganggap sebagai teman biasa. Sayapun merasa pusing. 
Akhirnya saya menerima kehadiran laki-laki yang lebih muda 5 tahun, hanya karena dijanjikan akan dinikahi 2 tahun lagi. Ternyata rasa itu bagaikan setan yang menipu, dari tidak ada rasa kemudian tumbuh rasa. Hanya sayang perjalanan menunggu untuk dinikahi tidak berjalan lancar. Ada beberapa teman wanita yang cemburu dengan saya. Dan hubungan kami berakhir dengan tidak baik. Sebenarnya kalau dikatakan saya berpacaran dengannya, kami seperti teman biasa, yang tidak pegangan tangan, tidak pernah nonton bareng, yang pergi ke Mall tapi janjiannya di Mall. Tidak ada antar jemput. Benar-benar seperti teman. 
Dan saya kembali sendiri di usia 28 tahun. Di rumah keadaan mulai panas, karena adik laki-laki kembali menemukan gadis pujaannya dan meminta menikah untuk kedua kali. Saya seperti kapal hilang kendali, karena dituntut untuk segera menikah. Pertanyaannya menikah dengan siapa? Di pengajian, beberapa kali biodata saya ditolak oleh ikhwan dengan berbagai alasan, karena sukunya Minang, pekerjaannya bukan PNS, usia sudah tidak muda lagi, dan sebagainya. Saat itu hidup saya sungguh menyebalkan. Minta dijodohin sana-sini, selalu gagal.

Sampai akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti biro jodoh online. Yups, biro jodoh, agak malu sebenarnya, karena anggapan menggunakan biro jodoh, berarti kita benar-benar tidak laku. Tapi saya merasa harus menikah, karena mau keluar dari rumah takut dicap anak durhaka, tetap berada di rumah hanya membuat terasa panas, karena dituntut menikah terus.

Dengan men-search secara online, saya menemukan website kenalan dengan membayar iuran anggota 100 ribu. Kalau tidak salah waktu itu tahun 2009. Seiring waktu saya menyadari, ternyata tidak semua anggotanya benar-benar ingin menikah. Banyak juga yang hanya untuk main-main dan PHP, malah ada yang meminta untuk menjadi istri kedua. Benar-benar menyebalkan.

Saya lebih suka berhubungan intens melalui chat yang disediakan oleh website tersebut, dibandingkan bertemu langsung. Setelah lama berinteraksi dan laki-lakinya minta ketemu, baru saya mau dengan syarat bertemu di tempat ramai seperti Mall dan pada waktu siang atau sore hari. Pulangnya pun saya anti diantar. Supaya merasa lebih aman.

Apakah saya langsung bertemu calon suami? Tidak. Menemukan calon suami yang tepat walaupun di biro jodoh, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Saya masih harus mengalami beberapa sakit hati, ditolak dan menolak. Sampai saya merasa illfeel dan memutuskan berhenti berinteraksi dengan beberapa laki-laki di website itu. Sedih memuncak dan saya memilih pasrah.

Akhirnya ada laki-laki yang mengajak berkenalan, selama chat terlihat karakternya baik. Dia meminta bertemu. Oh oke, pikir saya. Kami janjian di TIS Square Tebet. Karena saya menghabiskan waktu dengan teman sorenya di Semanggi, saya pikir gampang ketemu di TIS. Ternyata saya terlambat, dan dia tidak sabaran menunggu. Kami lalu janjian di Bidakara, tepatnya di pinggir jalan. Bodohnya saya Bidakara malam itu gelap dan sepi. Sambil merutuki hati, menyesali keputusan saya, takut kalau ternyata dia orang jahat. Spontan saat bertemu, saya meminta KTP-nya. Dia malah ketawa sambil mengeluarkan KTP. Oke, rumahnya ternyata di Pancoran, jadi gampang kalau mau dipolisikan, kalau dia macam-macam.

Kami lalu pergi ke food court Tamini Square untuk ngobrol sebentar, karena sudah jam 9 malam, pelayan mulai merapikan tempat, jadilah kami ngobrol ditemani pelayan yang beres-beres. Entah kenapa pulangnya saya mau diantar. Okelah, tapi dia tidak boleh membuka helm, dan langsung pulang seperti tukang ojek.

Besoknya tiba-tiba dia minta ke rumah, saya kaget, dan minta dia bertemu dengan sahabat saya, untuk wawancara. Alhamdulillah pertemuannya sukses, dan dia menyatakan ingin menikah dengan saya. Saat kedatangan pertama, keluarga langsung suka dan ditanyakan kapan melamar. Setelah itu semuanya lancar sampai pernikahan. Malah pacar adik yang duluan dilamar, tapi menikahnya duluan saya.

Begitulah rumitnya mencari jodoh bagi saya. Entah bagi yang mudah ketemu jodohnya. Bagi yang belum menikah, percaya saja, asalkan ada kemauan pasti ada jalan. Asalkan tidak pernah berhenti mencari, suatu saat pasti ketemu.

“Jodoh itu nggak kemana-mana, tapi kalau nggak kemana-mana, mana mungkin dapat jodoh?” Benjamin S.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *